Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mulai Antisipasi Krisis Air Bersih di 16 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo

Achmad Arianto • Jumat, 19 Juni 2026 | 12:25 WIB
DROPING AIR: Personel BPBD mengirimkan air bersih ke salah satu desa yang terdampak kekeringan saat musim kemarau tahun lalu. BPBD mencatat
DROPING AIR: Personel BPBD mengirimkan air bersih ke salah satu desa yang terdampak kekeringan saat musim kemarau tahun lalu. BPBD mencatat

 

DRINGU, Radar Bromo - Memasuki peralihan musim potensi kesulitan air  atau krisis air bersih menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). wilayah yang memiliki potensi bencana tersebut kini diwaspadai.

Menurunnya intensitas curah hujan menjadi salah satu penanda bahwa akan terjadi peralihan musim hujan ke musim kemarau. Kondisi demikian nantinya akan disertai dengan meningkatnya suhu.

Dalam jangka panjang hal ini tentunya berdampak pada debit air dan sumber mata air di lingkungan masyarakat. Sehingga patut diwaspadai terjadi potensi krisis air bersih.

“Krisis air bersih memang selalu kami waspadai saat musim kemarau. Beberapa wilayah masih membutuhkan pemenuhan air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.

Potensi krisis air bersih dapat terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo. Namun ada beberapa wilayah yang cukup menjadi atensi.

BPBD mencatat ada ada 16 kecamatan yang berpotensi krisis air. Bahkan krisis air bersih berpotensi terjadi sejak masuk peralihan musim hujan pada musim kemarau.BPBD telah memetakan 16 wilayah potensi krisis air bersih selama kemarau. Diantaranya adalah Kecamatan Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Kotaanyar, Kuripan, Leces, Lumbang, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, Wonomerto.

Wilayah tersebut diwaspadai mengalami krisis air bersih karena beberapa. Mulai dari sumber air dan sumur mulai mengering. Juga karena terjadi gangguan pipanisasi air bersih. Kondisi demikian membuat persediaan air bersih tidak sebanding dengan jumlah pengguna air bersih.

“Krisis air bersih terjadi pada umumnya antara bulan juni hingga Oktober. Berdampak pada ketersediaan air bersih dan irigasi pertanian,” ucapnya.

Oemar menambahkan ada beberapa upaya yang dilakukan petugas saat kondisi krisis air bersih. Mulai dari melakukan pemenuhan air bersih dengan mendropping air bersih. Pengiriman sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu juga menambah tandon komunal sebagai persediaan air bersih.

“Kewaspadaan kami lakukan. Karena itu apabila ada permohonan pemenuhan air bersih segera kami lakukan,” bebernya. (ar/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#kematau #kekeringan #kemarau