KREJENGAN, Radar Bromo-Membakar sampah saat musim kemarau dan meninggalkannya sebelum padam memang berbahaya. Seperti yang terjadi di Dusun Jawan, Desa Kedungcaluk, Kecamatan Krejengan.
Sebuah rumah semipermanen milik Suhar, 50, terbakar, Rabu (10/6) sore. Api berasal dari sampah yang dibakar kemudian merembet ke barongan dan rumah. Tidak ada korban dalam kejadian ini namun pemilik rumah mengalami kerugian materil.
Peristiwa ini terjadi saat rumah sedang kosong ditinggal penghuninya. Orang tak dikenal kemudian membakar sampah di sekitar barongan.
Setelah api menyala, bakaran sampah tersebut ditinggal. Diduga karena kondisi angin sedang kencang. Sekitar titik api banyak material yang mudah terbakar akhirnya api merembet.
Mulanya api membakar barongan yang tak jauh dari titik api. Hingga akhirnya api juga merembet ke rumah Suhar yang berdempetan dengan barongan. Rumah tersebut semi permanen berkonstruksi mayoritas kayu dan bambu.
Kejadian ini kemudian diketahui oleh warga yang sedang melintas. Kemudian menghubungi tetangga sekitar dan perangkat desa setempat. Karena api cukup besar kemudian menghubungi pemadam kebakaran Kabupaten Probolinggo.
“Kebakaran terjadi saat rumah sedang kosong. Laporan awal kondisinya sudah besar jadi kami segera mendatangi tempat kejadian kebakaran,” kata Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan Nonkebakaran Satpol PP Kabupaten Probolinggo Andrea Persaulian Kamis (11/6).
Sebanyak 7 petugas pemadam kebakaran turun ke lokasi kebakaran menggunakan 2 kendaraan. Diantaranya 1 mobil pemadam dan 1 mobil supply.
Sesampainya di lokasi petugas langsung melakukan pemadaman. Mulai dari pemadaman rumah. Selanjutnya perlahan memadamkan titik rambatan dan pusat api.
Andrea menuturkan, ada dua fokus pemadaman yang dilakukan. Titik pemadam pertama adalah rumah kemudian barongan yang menjadi sumber kobaran api paling besar. Membutuhkan waktu 2 jam petugas melakukan pemadaman api dan pendinginan.
“Tidak ada kendala dalam pemadaman hanya saja akses menuju tempat terjadinya kebakaran agak jauh. Tafsiran kerugian materiil sekitar Rp 10 juta,” pungkasnya.
Di sisi lain. pancaroba saat ini memang sedang berlangsung. Namun potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi. Sebagai mitigasi risiko bencana dan percepatan penanganan dampak bencana, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Probolinggo menyiagakan petugas.
Cuaca ekstrem dan angin kencang masih patut diwaspadai. Bencana ini sejatinya terjadi saat hujan turun dengan intensitas sedang.
Potensi tersebut menjadi lebih tinggi saat hujan tersebut mengguyur dengan durasi yang lama.
Potensi bencana tersebut juga dapat terjadi saat pancaroba. Sehingga kewaspadaan terhadap bencana perlu ditingkatkan.
“Angin kencang masih berpotensi terjadi. Perlu disikapi dengan meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.
Cuaca ekstrem dan angin kencang ini cukup menjadi atensi sebab masih berpotensi melanda wilayah Kabupaten Probolinggo. Angin kencang ini menyebabkan beberapa pohon tumbang dan bangunan warga mengalami kerusakan.
Peningkatan kewaspadaan ini dilakukan menyusul terjadi insiden cuaca ekstrem di wilayah potensi.
Tingginya insiden juga berpotensi terjadi seiring dengan perubahan musim. Oleh karena itu kewaspadaan terhadap bencana ini perlu ditingkatkan terlebih lagi ketika terjadi anomali cuaca di wilayah potensi.
“Untuk percepatan penanganan sudah ada petugas yang bersiaga. Bergerak cepat ketika mendapatkan laporan,” bebernya.
Oemar menuturkan penanganan dan evakuasi dampak bencana juga berkoordinasi dengan pihak terkait.
Dengan demikian proses evakuasi dapat dilakukan dengan maksimal, lebih cepat dan baik. Petugas BPBD juga melakukan asesmen dampak bencana yang ditimbulkan.
“Dalam hal penanganan dampak bencana memang perlu ada kolaborasi antara pihak terkait. Sehingga penanganannya lebih maksimal,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid