KRAKSAAN, Radar Bromo- Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo, terus menjadi perhatian serius. Demi menekan penyebarannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, rutin mengecek wilayah temuan.
Penyakit DBD masih berpotensi terjadi. Sebab, pada peralihan musim atau pancaroba seperti saat ini, risiko penyebarannya masih mengancam. Tidak menentunya suhu dan kondisi curah hujan, menjadi pemicu tingginya perkembangbiakan nyamuk.
Kondisi ini bisa menjadi ancaman serius, khususnya di lingkungan yang memiliki genangan air namun tidak terpantau dengan sempurna.
“Genangan air ini menjadi media perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor utama penularan DBD. Sehingga patut diwaspadai,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr. Nina Kartika.
Sejauh ini ada dua wilayah yang menjadi atensi Dinkes. Yakni, Kecamatan Kraksaan dan Kecamatan Paiton. Pasalnya, wilayah tersebut memiliki kasus temuan paling menonjol dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Menindaklanjuti temuan itu, Dinkes berkoordinasi dengan Puskesmas, proaktif memantau wilayah potensi temuan. Kemudian, melakukan penanganan dengan maksimal bila terdapat pasien positif DBD. Tidak cukup sampai di situ, agar penanggulangan penyakit lebih maksimal perlu dilakukan penanganan kolaborasi lintas sektor.
“Masyarakat juga memiliki peranan penting. Agar tidak terjadi lonjakan penyakit DBD dan temuan dapat dikendalikan,” bebernya.
Nina menambahkan, pencegahan dan penanganan DBD harus dilakukan mulai dari bawah. Kesadaran masyarakat untuk mencegahnya perlu ditingkatkan. Salah satunya rutin memantau dan membersihkan rumah serta lingkungan. Agar tidak ada sarang jentik nyamuk Aedes Aegypti.
“Pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat dapat menekan potensi penyebaran penyakit DBD, sehingga perlu ada kesadaran masyarakat dalam memutus rantai penyebaran DBD,” katanya. (ar/rud)
Editor : Fahreza Nuraga