Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Persoalan Sampah di Kabupaten Probolinggo Tak Kunjung Usai, Tekankan Masyarakat Kelola Sampah

Agus Faiz Musleh • Rabu, 13 Mei 2026 | 08:17 WIB
MENGGUNUNG: Tumpukan sampah di TPA Seboro, Kabupaten Probolinggo, semakin menggunung. DLH selalu mengajak warga untuk mengelola sampah dari rumah. (DOK. JAWA POS RADAR BROMO)
MENGGUNUNG: Tumpukan sampah di TPA Seboro, Kabupaten Probolinggo, semakin menggunung. DLH selalu mengajak warga untuk mengelola sampah dari rumah. (DOK. JAWA POS RADAR BROMO)

KRAKSAAN, Radar Bromo - Persoalan sampah rumah tangga masih menjadi pekerjaan rumah di banyak wilayah Kabupaten Probolinggo. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo terus mendorong warga agar tidak lagi sekadar membuang sampah. Tetapi mengelolanya sejak dari rumah.

Salah satunya berusaha diterapkan di Kelurahan Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan. Warga diajak memahami bahwa sampah rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi jika dipilah dengan benar. Warga juga diperkenalkan dengan pola pemilahan sampah menjadi tiga kategori.

Di antaranya, sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan. Diarahkan untuk diolah menjadi kompos. Sampah anorganik, seperti plastik, botol, dan kertas dapat disalurkan melalui bank sampah. Sedangkan, sampah residu dan bahan berbahaya beracun (B3) seperti popok, baterai, hingga lampu bekas membutuhkan penanganan khusus.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Probolinggo Ari Suciati mengatakan, pola pikir masyarakat soal sampah harus mulai berubah. Sampah bukan semata limbah yang harus dibuang.

“Sampah bukan lagi akhir dari konsumsi, tapi awal dari sesuatu yang bernilai jika kita kelola dengan benar,” ujarnya.

Warga juga diajak praktik membuat komposter sederhana menggunakan ember bekas. Juga dikenalkan cara kerja bank sampah yang memungkinkan sampah anorganik memiliki nilai tabungan.

“Kalau ibu-ibu rajin memilah, sampah bisa jadi tabungan. Lingkungan bersih, dapur juga tetap ngebul,” ujarnya kepada sejumlah warga.

Lurah Kraksaan Wetan Zainul Fathah mengatakan, pemerintah kelurahan akan menindaklanjuti hasil sosialisasi dengan mendorong pembentukan bank sampah di tiap RW.

“Kami akan mendorong setiap RW membentuk bank sampah dan siap memfasilitasi pendampingan lanjutan bersama DLH,” katanya. (mu/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#dlh #rumah tangga #sampah #probolinggo #pekerjaan