KRAKSAAN, Radar Bromo - Aktivitas belajar mengajar di lingkungan Yayasan Ainur Rohmah terganggu sejak April lalu.
Penyebabnya, tebing penahan tanah di area sekolah yang berlokasi di Desa Tambak Ukir, Kotaanyar tersebut, ambrol dan hingga kini belum mendapat penanganan dari pihak berwenang.
TPT yang ambrol memiliki panjang 12 x 8 meter. Kondisi tersebut membuat 4 ruang kelas yang biasa digunakan bersama oleh siswa MI dan MTs kini tidak dapat difungsikan.
Total sekitar 80 siswa terdampak. Mereka terpaksa mengungsi dan mengikuti kegiatan belajar di rumah warga sekitar dengan segala keterbatasan.
“Sejak ambrol itu, anak-anak tidak bisa belajar di kelas. Sekarang numpang di rumah warga,” ujar Kholik, salah satu warga setemat.
Menurutnya, kondisi tebing yang longsor cukup membahayakan. Selain merusak struktur tanah di sekitar bangunan, potensi longsor susulan juga masih mengancam, terutama saat hujan turun.
“Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir akan makin parah. Ini bukan hanya soal bangunan, tapi keselamatan anak-anak juga,” tegasnya.
Kholik berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk. “Kami hanya ingin ada perhatian. Kasihan anak-anak, masa harus terus belajar dalam kondisi seperti ini,” tandasnya.
Di sisi lain, para orang tua dan warga sekitar berupaya semampunya menjaga agar kegiatan belajar tetap berjalan. Namun, keterbatasan tempat dan fasilitas membuat proses pendidikan tidak maksimal.
Sementara itu Kepala Desa Tambak Ukir Mohammad Tarsan menyebutkan, Pemkab Probolinggo melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Probolinggo (DPKPP), telah berjanji akan melakukan penanganan pada TPT tersebut. Namun hingga saat ini belum ada tidak lanjut yang nyata.
"Sebelumnya sudah mau dibenahi. Nah ini masih belum ada kabar lagi dari DPKPP," katanya.
Hingga berita ini ditulis, belum terlihat belum diketahui langkah konkret dari Pemkab Probolinggo maupun Padahal, kerusakan sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
Jawa Pos Radar Bromo berupaya mengkonfirmasi Kepala DPKPP Agus Budianto. Sampai berita ini ditulis yang bersangkutan tidak menerima panggilan maupun membalas pesan yang di layangkan. (mu/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni