Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gas Elpiji Melon Langka di Kabupaten Probolinggo, Ada yang Jual Tembus Rp 25 Ribu, Begini Langkah Pemkab

Agus Faiz Musleh • Rabu, 25 Maret 2026 | 16:42 WIB

 

Nampak salah satu pegawai di salah satu distributor gas elpiji 3 kg di wilayah Kraksaan menata kembali gas yang ada di tempatnya.
Nampak salah satu pegawai di salah satu distributor gas elpiji 3 kg di wilayah Kraksaan menata kembali gas yang ada di tempatnya.

 KRAKSAAN, Radar Bromo-Ibu-ibu rumah tangga di Kabupaten Probolinggo beberapa hari terakhir dibuat bingung. Sebab, elpiji 3 kilogram alias elpiji melon mulai langka.

Kelangkaan gas elpiji melon itu terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo.

Tercatat, sedikitnya 24 kecamatan terdampak kondisi ini sejak H-1 Lebaran, Sabtu (22/3).

Akibatnya, aktivitas rumah tangga warga  terganggu, terutama saat momen terakhir buka puasa.

Tak sedikit warga yang terpaksa membeli makanan jadi karena kehabisan gas untuk memasak.

“Saat mau masak buat buka puasa terakhir, ternyata gas habis. Cari ke beberapa warung juga kosong. Akhirnya terpaksa beli makanan di luar, ya lebih mahal,” ujar Tyas Ayu, warga Kecamatan Kraksaan, Rabu (25/3).

Kondisi ini tidak hanya terjadi sehari. Hingga tiga hari setelah Lebaran, kelangkaan gas melon masih dirasakan warga.

Sejumlah masyarakat mengaku harus berkeliling ke beberapa titik untuk mendapatkan tabung gas bersubsidi tersebut.

“Sudah muter ke empat tempat, tetap tidak ada. Kalau pun ada, harganya mahal. Bahkan warga pajarakan dan Krejengan juga banyak cari ke Kraksaan,” keluh Ahmad Fauzi, warga lainnya.

Dari pantauan di lapangan, beberapa warung dan toko kelontong memang masih memiliki stok terbatas. Namun, harga yang ditawarkan melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Salah satu pemilik warung di Kraksaan yang enggan di sebut namanya mengaku terpaksa menjual lebih tinggi karena kesulitan mendapatkan pasokan.

“Kami jual Rp 25 ribu per tabung. Soalnya ambilnya juga susah, sudah beberapa hari tidak ada kiriman dari distributor,” ujarnya.

Menurut pedagang warung Madura ini, distribusi gas sudah tersendat sejak H-3 Lebaran.

Hal ini membuat stok di tingkat pengecer cepat habis, sementara permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang hari raya.

“Biasanya sebelum Lebaran justru ada tambahan pasokan, tapi ini malah tidak ada kiriman sama sekali,” tambahnya.

Ia menyebutkan bahwa kelangkaan ini bukan hanya terjadi di satu titik, melainkan merata.

“Permintaan tinggi, tapi barang kosong. Sudah kami ajukan permintaan tambahan, tapi belum ada realisasi,” ungkapnya.

Padahal, gas LPG 3 kilogram merupakan barang subsidi pemerintah dengan harga resmi berkisar Rp 18.500 hingga Rp 19.000 per tabung. Namun karena kebutuhan mendesak, masyarakat tetap membeli meski dengan harga lebih tinggi.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah cepat untuk menormalkan distribusi.

Sebab, gas melon menjadi kebutuhan pokok yang sangat vital bagi masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.

“Harapannya segera ada solusi, supaya tidak terus seperti ini. Kasihan masyarakat kecil,” pungkas Siti.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mengajukan tambahan pasokan sebanyak 100 ribu tabung LPG kepada Pertamina guna mengantisipasi kelangkaan dan lonjakan kebutuhan masyarakat pada momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris mengatakan pihaknya telah melakukan kajian sejak pertengahan bulan terkait potensi gangguan distribusi, termasuk dampak isu global seperti konflik perang yang memicu kepanikan di masyarakat.

“Sejak awal kami sudah mengkaji lebih jauh, terutama terkait isu perang dan sebagainya. Di awal sempat terjadi panic buying karena pengaruh pemberitaan,” ujarnya.

Bupati Haris menjelaskan, kondisi sempat berangsur normal setelah adanya distribusi tambahan dari Pertamina pada 19 hingga 20 Maret 2026.

Namun, menjelang Lebaran, fenomena panic buying kembali terjadi di sejumlah wilayah.

“Menjelang Lebaran terjadi lagi panic buying. Ada masyarakat yang membeli dua kali (lebih dari satu tabung,red),” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Probolinggo telah mengajukan penambahan kuota LPG sebanyak 100 ribu tabung. Langkah ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa hari setelah Hari Raya.

“Kami sudah mengajukan tambahan 100 ribu tabung LPG kepada Pertamina. Semoga ini direspons dengan baik untuk memastikan ketersediaan hingga H+6,” tegasnya.

Bupati Haris menambahkan, peningkatan kebutuhan LPG tidak hanya dipengaruhi oleh momen Lebaran, tetapi juga oleh faktor psikologis masyarakat akibat isu global yang berkembang.

“Fenomena ini dipicu oleh isu perang dan juga momentum Lebaran. Kami berupaya agar ke depan distribusi tetap terjaga dengan baik, khususnya di Kabupaten Probolinggo, karena masyarakat sangat membutuhkan,” jelasnya. (mu/mie)

Editor : Muhammad Fahmi
#elpji 3 kg #langka #elpiji melon #bupati probolinggo #gus haris #probolinggo #pemkab probolingg