KRAKSAAN, Radar Bromo - Warga Guyangan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo membangun kembali jembatan di desa setempat yang putus.
Mereka membangun jembatan itu, Minggu (22/2) setelah jembatan itu hanyut diterjang banjir, Jumat (20/2).
Bencana ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir. Pada Februari 2025, jembatan beton hasil gotong royong masyarakat lebih dulu tersapu arus.
Saat itu, warga patungan membangun jembatan semi permanen dari beton dan bambu. Namun, banjir pekan lalu kembali merobohkan jembatan itu.
Padahal, jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses utama dari Desa Guyangan menuju Desa Betek. Jalur itu saban hari dilalui warga dari tiga dusun: Gligir, Ledduk, dan Lebbe.
Bukan sekadar jalan penghubung, jembatan tersebut adalah urat nadi ekonomi.
Hasil pertanian seperti pisang dan komoditas lainnya didistribusikan melalui jalur itu menuju Betek hingga Pasar Condong.
Kini, setelah kembali hanyut, aktivitas ekonomi warga nyaris lumpuh. Jalur alternatif memutar lewat Krucil memang ada, namun jaraknya lebih jauh dan ongkos angkut membengkak. Bagi petani kecil, kondisi itu jelas memberatkan.
Kepala Dusun Lebbe, Desa Guyangan, Pujiono, menegaskan pentingnya jembatan tersebut bagi kehidupan warga.
Ia mengingat bagaimana jembatan beton sebelumnya berdiri dari hasil urunan masyarakat.
“Jembatan ini satu-satunya akses kami menuju Desa Betek. Dulu jembatan beton itu hasil swadaya masyarakat, tapi terbawa arus pada Februari 2025. Setelah itu kami bangun lagi jembatan darurat secara gotong royong. Lalu pada 20 Februari 2026 kemarin, banjir datang lagi dan jembatan itu hilang lagi,” ujarnya.
Menurutnya, dampaknya sangat terasa bagi warga tiga dusun.
“Ini akses ekonomi warga tiga dusun, Lebbe, Ledduk, dan Gligir. Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dusun Gligir, Abdus Salim. Ia menyebut pembangunan jembatan sebelumnya dilakukan secara mandiri lantaran status jalan tersebut dinilai bukan milik desa.
Saat ini, kondisinya makin berat. Sebab, kemampuan ekonomi warga terbatas. Warga kesulitan kalau harus swadaya lagi.
“Kalau harus urunan terus untuk memperbaiki jembatan, kasihan warga. Untuk cari makan saja masih susah. Kami berharap pemerintah kabupaten segera memperhatikan,” tambahnya.
Namun Minggu (22/2), warga dari tiga dusun kembali turun tangan.
Dengan alat seadanya dan material yang dikumpulkan bersama, mereka mulai menyusun rangka jembatan darurat agar roda ekonomi tak berhenti total.
Umar Jailani, warga Dusun Lebbe, mengatakan swadaya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Dari pembangunan jalan hingga jembatan, semuanya dilakukan dengan urunan.
“Ini bukan sekali dua kali kami swadaya. Dari pembangunan jalan sampai jembatan semuanya urunan warga. Bukan kami tidak mau bantuan pemerintah, tapi memang belum ada sentuhan sama sekali. Katanya kemarin sudah diukur, tapi sampai sekarang belum ada kabar,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi saat ini membuat aktivitas ekonomi hampir terhenti. Bahkan, bisa dikatakan hampir lumpuh.
“Karena jembatan ptuus, akses kirim pisang dan hasil pertanian ke Betek dan ke Condong jadi terputus. Kalau lewat Krucil bisa, tapi tidak nutut biayanya. Kami berharap Bupati dan Wakil Bupati bisa memberi atensi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, pihaknya yang telah memonitor kejadian jembatan putus yang ada di desa Guyangan.
"Kami sudah memonitor dan pembangunan jembatan sementara telah dilakukan oleh masyarakat," ujarnya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi