KRAKSAAN, Radar Bromo - Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu hingga hilir kembali memicu banjir bandang di Kabupaten Probolinggo, Rabu (21/1) malam.
Sejumlah sungai meluap, air meluber ke permukiman dan melumpuhkan aktivitas masyarakat di beberapa kecamatan.
Sejumlah titik yang terdampak banjir di antaranya, Dusun Sumberbanger, Desa Opo-opo dan Dusun Krajan II, Desa Jatiurip di Kecamatan Krejengan.
Banjir juga terjadi di Dusun Patemon, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan serta Dusun Poreng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kotaanyar.
Puluhan rumah warga terendam di tiga kecamatan itu. Termasuk fasilitas umum hingga lembaga pendidikan keagamaan.
Di Dusun Sumberbanger dan Krajan II yang berada di sekitar aliran Daerah Irigasi (DI) Sumberbanger, banjir membuat mobilitas warga sempat terhenti. Sebab, air lumayan tinggi. Yang tertinggi sampai dada orang dewasa atau sekitar 1,5 meter.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga mengungsi ke wilayah lebih tinggi. Sebagian lagi bertahan di rumah sambil menunggu air surut.
"Banjir terjadi sejak pukul lima sore hingga pukul delapan malam, hari Rabu. Cepat tingginya. Kami sekeluarga dan tetangga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, rumah tetangga sebelah selatan," kata Busri, 60, warga Dusun Sumberbanger, Desa Opo-Opo.
Maryam, warga lainnya mengatakan hal serupa. "Banjir di sini tinggi karena dusun sini dikelilingi sungai (afur Sumberbanger, Red). Jadi air yang meluber langsung ke permukiman," katanya.
Meski tak sampai menelan korban, warga mengaku kelabakan dengan banjir tersebut. Karena belum seminggu banjir telah terjadi dua kali.
"Sabtu (17/1) kemarin lebih parah. Belum sempat kering, sudah banjir lagi. Kalau dihitung selama dua tahun terakhir ini sudah tiga kali banjir," kata Maryam.
Sekda Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto bersama Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief langsung turun ke lokasi banjir di Desa Opo-Opo, Rabu (21/1) malam.
Bersama jajaran OPD terkait serta Forkopimka setempat, asesmen langsung dilakukan. Termasuk menyiapkan penanganan darurat.
“Saya bersama tim OPD, langsung mengecek titik-titik genangan air yang cukup tinggi. Dari hasil pantauan, ditemukan beberapa penyebab yang menjadi pemicu terjadinya banjir,” ujar Ugas di lokasi.
Di antaranya, sungai tidak lagi berfungsi optimal. Lalu, sempadan sungai yang seharusnya steril dari bangunan, maupun hambatan lain, malah dipenuhi bangunan. Pendangkalan sungai juga terjadi di sejumlah titik.
“Ada beberapa bagian sungai yang mengalami pendangkalan dan itu akan segera ditindaklanjuti dengan normalisasi. Untuk penanganan darurat, kami siapkan bantuan nasi bungkus. Mulai besok pagi, dapur umum akan dioperasikan untuk melayani kebutuhan warga,” tegasnya.
Ugas menegaskan, setiap bencana akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan yang lebih tepat. Banjir bandang yang berulang setiap musim hujan kini masuk dalam agenda penanganan rutin agar dampaknya bisa ditekan. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi