KRAKSAAN, Radar Bromo - Angka penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo masih terbilang tinggi. Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo mencatat, hingga Oktober di tahun 2025 terdapat ratusan kasus HIV/AIDS dengan puluhan orang di antaranya meninggal dunia.
Penyakit menular yang menyerang kekebalan tubuh penderitanya ini cukup diwaspadai. Selain potensi penularannya dapat dengan mudah terjadi.
Apabila telat penanganan, penyakit ini juga menyebabkan kematian pada penderitanya. Sehingga perlu ada penanganan cepat dan tepat terhadap penderita.
“Kasus HIV/AIDS dari Januari hingga Oktober tercatat 444 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 30 orang di antaranya meninggal dunia,” kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika, Selasa (2/12).
Nina tidak merinci, orang yang meninggal akibat HIV/AIDS ini di usia rentang berapa. Begitu juga dengan jenis pekerjaan hingga jenis kelamin. Namun angka penderita yang mencatat 444 kasus tidak bisa dibilang remeh.
Nina menjelaskan, penyakit ini menular karena beberapa hal. Salah satunya yang sering ditemukan karena sering melakukan hubungan badan dengan bergonta-ganti pasangan.
Dinas Kesehatan telah berupaya menekan kasus ini dengan melakukan penyuluhan berkaitan dengan penyakit HIV/AIDS. Kemudian melakukan skrining untuk menemukan, kemudian langsung melakukan pengobatan serta melakukan pencegahan dengan profilaksis pra pajanan (PrEP).
Upaya yang dilakukan ini bukan hanya untuk menekan kasus. Tetapi juga untuk mengobati pasien yang sebelumnya telah diketahui terkena penyakit HIV/AIDS sehingga tidak menularkan pada orang lain.
Nina menambahkan, sejatinya penyakit ini bisa dicegah dengan beberapa cara. Mulai dari tidak melakukan hubungan seksual berisiko.
Agar hal itu terwujud, harus ditanamkan rasa setia pada pasangan. Minimal menggunakan kondom jika melakukan hubungan seksual beresiko. Serta tak kalah pentingnya adalah menghindari narkoba.
“Setia pada pasangan itu menjadi hal penting untuk mencegah HIV/AIDS. Perlu edukasi dengan memberi informasi yang tepat dan akurat untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari HIV/AIDS,” bebernya.
Penderita penyakit HIV/AIDS juga tercatat banyak di Kabupaten Pasuruan. Data terbaru BPS mencatat 178 kasus. Angka itu melonjak signifikan dan menegaskan bahwa ancaman HIV bukan lagi persoalan pinggiran dan harus jadi alarm keras
Di daerah industri yang kini dipadati ribuan pekerja dari berbagai wilayah, risiko penularan HIV muncul lewat interaksi sosial yang makin kompleks. Mobilitas tinggi dan pergaulan yang makin terbuka membuat pengendalian penyebaran virus tidak bisa hanya mengandalkan imbauan.
Ketua IDI Kabupaten Pasuruan dr. A. Arif Junaedi menyoroti dua persoalan besar: rendahnya edukasi dan tingginya stigma. Keduanya membuat masyarakat enggan memeriksakan diri.
“Banyak warga takut dicap negatif. Padahal, deteksi dini justru menyelamatkan diri dan keluarga,” tegas Arif.
Minimnya ruang diskusi tentang kesehatan reproduksi juga jadi hambatan serius. Topik seksual masih dianggap tabu sehingga generasi muda tidak mendapat pemahaman yang tepat soal pencegahan HIV.
Pasuruan sebagai kawasan industri memiliki tantangan khas. Arus pekerja yang datang–pergi, interaksi sosial intens, dan mobilitas tinggi menjadi faktor risiko tambahan.
Situasi ini sekaligus menunjukkan perlunya edukasi yang lebih masif agar kesadaran masyarakat tumbuh.
Arif mengatakan, dengan pengobatan antiretroviral (ARV) yang rutin, penderita HIV bisa hidup sehat dan produktif.
“Karena itu, kunci penanganan tetap edukasi,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah memperluas layanan pemeriksaan HIV di seluruh Puskesmas.
Tujuannya, warga tidak perlu jauh-jauh untuk tes. Kolaborasi dengan fasilitas kesehatan swasta juga diperkuat agar penanganan bisa lebih cepat.
RSUD Bangil kini menyediakan layanan pemeriksaan viral load untuk memantau keberhasilan pengobatan ARV. Fasilitas ini diharapkan menjadi bagian penting pengendalian HIV secara berkelanjutan.
Arif menyebut, pengendalian HIV hanya bisa tercapai jika semua pihak turut bergerak—mulai perusahaan, sekolah, komunitas, lingkungan desa, hingga keluarga. “Kita butuh gerakan bersama untuk melindungi generasi Pasuruan,” katanya.
Penularan penyakit HIV/AIDS di Kota Probolinggo masih terus terjadi. Bahkan, sejak 2023 terjadi peningkatan signifikan. Bahkan, tahun ini–sampai Oktober 2025–ada 93 pasien baru.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan P2KB Asri Wahyuningsih mengatakan, kasus penularan HIV/AIDS terus menjadi perhatian serius Pemkot Probolinggo. Pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan penularannya di tengah masyarakat.
Upaya penanganan kasus HIV/AIDS terus dilakukan. Mulai dari pencegahan dan pengobatan.
Pihaknya sudah menyosialisasikan pencegahan dengan menjadikan sasaran kelompok sekolah.
Termasuk melakukan tes HIV terhadap kelompok berisiko, seperti ibu hamil. Dengan maksud, jika ada kasus bisa ditemukan sedini mungkin.
“Kami memberikan pelayanan tes HIV di semua Puskesmas. Sedangkan, pengobatan tergantung kondisi pasien. Bisa di rumah sakit umum atau di Puskesmas Kanigaran,” katanya.
Dari data Dinkes-P2KB Kota Probolinggo, pada 2023 terdapat 187 orang pasien HIV. Dari jumlah itu, 101 orang merupakan pasien baru. Pada 2024 tercatat ada 275 orang dengan HIV (92 pasien baru). Tahun ini sampai Oktober, ada 368 pasien (93 kasus baru).
Sejauh ini ratusan pasien penderita HIV tetap aktif menjalani pemeriksaan atau pengobatan.
Dengan harapan dapat menjaga daya tahan tubuh dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa.
“Dari 93 kasus HIV/AIDS tersebut (pasien baru tahun ini), lak-laki 54 persen dan sisanya 46 persen perempuan,” ungkapnya.
Orang dengan HIV di Kota Probolinggo, kata Asri, kebanyakan heteroseksual atau mereka suka bergonta-ganti pasangan. Mereka tidak mengetahui jika pasangannya terpapar HIV.
Sejatinya, semakin banyak temuan HIV/AIDS, justru semakin baik. Dengan begitu, pasien bisa diobati lebih cepat dan virusnya tidak semakin menyebar.
Penyebaran HIV/AIDS dapat terjadi karena hubungan seksual yang kurang sehat. Seperti, berganti-ganti pasangan. Juga pemakaian jarum suntik secara bergantian.
“Virus HIV itu tidak bisa disembuhkan. Tetapi jika mereka minum (obat) teratur, pasien bisa bertahan hidup lebih lama. Karena obat itu diformulasikan bisa mengontrol virus dalam tubuh dan pengobatan sedini mungkin sangat penting,” jelasnya.
Soal profesi penderta, Asri mengaku belum mendatanya. Alasannya, pihaknya fokus untuk mengajak penderita bersedia menjalani pengobatan. Karena selama ini tantangannya sering penderita HIV dikucilkan.
“Butuh dukungan dan peran dari masyarakat juga, untuk tidak mengkucilkan penderita HIV,” ujarnya. (ar/tom/mas/fun)
Editor : Abdul Wahid