Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perputaran Uang selama Seven Lakes Festival 2025 Diklaim Pemkab Probolinggo Tembus Segini

Agus Faiz Musleh • Selasa, 18 November 2025 | 14:00 WIB
ANGKAT EKONOMI: Salah satu gelaran acara dalam gelaran Seven Lakes Festival 2025 yang digelar di Krucil dan Tiris.
ANGKAT EKONOMI: Salah satu gelaran acara dalam gelaran Seven Lakes Festival 2025 yang digelar di Krucil dan Tiris.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Gelaran Seven Lakes Festival yang berlangsung pada 7-16 November 2025 di Kecamatan Krucil dan Tiris membawa dampak signifikan pada perputaran ekonomi lokal.

Meski seluruh data belum masuk, pergerakan ekonomi diduga sudah menyentuh ratusan juta rupiah.

“Data sementara saja sudah menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Ini menunjukkan Seven Lakes mampu mendorong ekonomi masyarakat di dua kecamatan secara cepat dan sangat terasa. Datanya terus berkembang, bisa sampai miliaran rupiah,” ujar Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto.

Menurut laporan sementara, sektor pariwisata dan UMKM di Krucil mencatat peningkatan pendapatan berkali lipat. Seperti di Bermi Eco Park,

Dalam 10 hari sebelum acara, pendapatan dari parkir, kafe, dan tiket hanya sekitar Rp 16 juta. Namun, selama 7 hari pelaksanaan Seven Lakes, angka itu melonjak menjadi Rp 52 juta.

“Ada kenaikan sekitar 320 persen. Ini efek langsung dari kunjungan wisatawan selama festival,” terang Sugeng.

Kemudian Wisata Guyangan, seperti Sewa jeep, tenda, glamping, kafe, hingga penjualan buah menghasilkan Rp23,2 juta.

Pada Minggu biasa, pemasukan hanya sekitar Rp6 juta. “Kenaikan di Guyangan mencapai 380 persen. Dampaknya sangat terasa oleh pelaku wisata dan warga,” tambahnya.

Kemudian Betek Rest Area, Parkir dan homestay mencatat Rp3,6 juta, serta kafe Rp10 juta, total Rp13,6 juta.

Hari biasa dalam seminggu hanya Rp3–4 juta. “Betek juga naik lebih dari tiga kali lipat atau sekitar 350 persen,” jelasnya.

UMKM dan pedagang lokal di sekitar kawasan, perputaran uang selama Seven Lakes diprediksi mencapai sekitar Rp 100 juta. Selain itu, jasa ojek wisata menghasilkan Rp1-1,5 juta per hari.

Homestay sebanyak 11 rumah juga ludes dipesan, masing-masing Rp 250.000 per malam selama 4 hari.

“Warga merasakan langsung manfaatnya. Baik dari sewa kamar, jasa ojek, hingga dagangan yang laris,” ujar Sugeng.

Sementara di Kecamatan Tiris, data yang masuk menunjukkan pergerakan ekonomi yang tak kalah besar, UMKM Ranusegaran mencatat transaksi sekitar Rp 220 juta selama 7 hari. Angka ini belum termasuk penjualan di warung-warung sekitar.

Data parkir yang dikelola Pokdarwis dan warga juga menunjukkan hasil hampir setara, meski angka lengkapnya masih dihimpun.

Sementara itu, dari sektor wisata Songa, meski datanya belum final, estimasi awal mencapai Rp100 juta lebih dalam tujuh hari perputaran uang yang ada di masyarakat.

“Jika seluruh laporan sudah masuk, saya yakin total perputaran ekonomi selama Seven Lakes bisa jauh di atas angka sementara ini. Potensinya sangat besar,” tegas Sugeng.

Sugeng menegaskan bahwa acara seperti Seven Lakes bukan hanya mengangkat pariwisata, tapi juga menghidupkan kembali ekonomi warga desa.

“Ini bukti bahwa event pariwisata mampu menggerakkan ekonomi secara nyata. Warga dapat penghasilan, tempat wisata berkembang, UMKM tumbuh. Kami akan terus mendorong acara serupa digelar secara berkelanjutan,” tutupnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pemkab probolinggo #larung sesaji #ranu segaran #wisata #tiris