KRAKSAAN, Radar Bromo – KONI Kabupaten Probolinggo akhirnya buka suara tentang pemangkasan anggaran untuk tiap cabor. Termasuk belum cairnya bonus atlet berprestasi. Penyebabnya, karena anggaran hibah KONI dipangkas.
Ketua KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan menegaskan, anggaran hibah 2025 untuk KONI mengalami penyusutan.
Dari rencana awal Rp 4,5 miliar, menjadi Rp 4 miliar atau berkurang Rp 500 juta.
Pemangkasan itu, menurutnya, bukan kemauan atau kesalahan KONI. Melainkan, bagian dari efisiensi anggaran yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Seluruh proposal hibah yang diajukan di awal tahun harus menyesuaikan dengan instruksi efisiensi anggaran dari pusat. Jadi bukan kami yang memangkas. Melainkan, memang kebijakan penghematan dari pemerintah,” jelas Zainul, Minggu (19/10)
Pemangkasan anggaran itu membuat dana pembinaan untuk masing-masing cabor juga ikut terkoreksi. Mau tidak mau, KONI harus mengurangi dana pembinaan untuk tiap cabor.
“Dana pembinaan tiap cabor rata-rata berkurang antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Tergantung prestasi dan kebutuhan pembinaan masing-masing,” terangnya.
Misalnya, dana pembinaan untuk cabor Muaythai yang meraih tiga medali emas dalam Porprov Jatim IX 2025, dikurangi Rp 10 juta.
Sedangkan cabor Kick Boxing yang meraih satu emas dipangkas Rp 30 juta.
Meski bukan kesalahan KONI, namun Zainul mengaku bisa menerima semua sorotan dan kritik pada KONI akibat pemangkasan dana pembinaan itu. Menurutnya, kritik bukan hal yang perlu dihindari.
“Kritik itu infus bagi saya. Justru jadi motivasi agar kami terus memperbaiki tata kelola dan transparansi KONI,” ujarnya.
Dia memastikan, setiap rupiah dana hibah yang diterima KONI dikelola secara terbuka dan terukur. Serta disalurkan ke 34 cabor binaan di Kabupaten Probolinggo.
Bonus Atlet Jadi Wewenang Pemkab
Sementara itu, belum cairnya bonus atlet berprestasi di ajang Porprov Jatim IX 2025 adalah hal yang berbeda. Menurutnya, bonus atlet merupakan kewenangan Pemkab Probolinggo. Tidak dianggarkan dalam dana hibah KONI.
Pada ajang Porprov Jawa Timur IX 2025, kontingen Kabupaten Probolinggo berhasil mengantongi 53 medali. Terdiri atas 18 emas, 16 perak, dan 19 perunggu.
Capaian itu membawa Kabupaten Probolinggo melonjak ke peringkat 19 dari 38 kabupaten/kota se-Jatim. Naik enam tingkat dibanding Porprov Jatim VIII 2023 yang berada di posisi 25.
“Ini bukti bahwa semangat juang atlet kita luar biasa, meski dana pembinaan terbatas,” ucap Zainul bangga.
Atas prestasi para atlet itu, KONI menjanjikan reward atau bonus berupa uang sebagai bentuk penghargaan. Totalnya mencapai Rp 1,56 miliar untuk 53 atlet, sesuai dengan jumlah medali yang diraih.
Rinciannya, atlet yang meraih emas mendapat reward Rp 25 juta. Lalu, Rp 15 juta untuk peraih perak, dan Rp 10 juta untuk atlet yang meraih perunggu.
Namun, bonus atlet berprestasi itu tak kunjung cair hingga tiga bulan setelah porprov selesai. Hal ini sempat menimbulkan kegaduhan di kalangan atlet dan masyarakat olahraga.
Zainul pun menegaskan, pemberian reward bukan wewenang KONI. Melainkan tanggung jawab Pemkab Probolinggo.
“Tugas KONI mendampingi dan membina atlet sampai berprestasi. Soal pencairan bonus, itu ranah pemkab. Nilainya totalnya mencapai Rp 1,56 miliar untuk 53 atlet,” ujarnya.
Ia berharap, bonus atlet itu bisa dianggarkan dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) tahun ini. Sehingga, bonus itu bisa segera cair.
“Kami berharap apa yang sudah dijanjikan kepada atlet segera direalisasikan. Mereka sudah mengharumkan nama daerah, sudah sepatutnya diapresiasi,” pungkasnya.
Meski dihantam pemangkasan anggaran, Zainul meyakinkan bahwa dunia olahraga tak kehilangan semangat. Para pelatih, atlet, dan pengurus KONI tetap optimistis menghadapi berbagai kejuaraan berikutnya.
“Prestasi tak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Yang penting niat, disiplin, dan kebersamaan,” katanya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi