Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ribuan Santri Gelar Aksi Damai di Halaman DPRD Kabupaten Probolinggo, Protes Tayangan Xpose Uncensored Trans7

Agus Faiz Musleh • Senin, 20 Oktober 2025 | 00:26 WIB

 

AKSI DAMAI: Halaman DPRD Kabupaten Probolinggo dipenuhi ribuan santri kemarin (19/10), yang menggelar aksi damai memprotes tayangan Xpose Uncensored Trans7.
AKSI DAMAI: Halaman DPRD Kabupaten Probolinggo dipenuhi ribuan santri kemarin (19/10), yang menggelar aksi damai memprotes tayangan Xpose Uncensored Trans7.

KRAKSAAN, Radar Bromo– Gelombang protes terhadap tayangan “Xpose Uncensored” Trans7 juga dilakukan di Kabupaten Probolinggo.

Minggu (19/10), ribuan santri dan alumni ponpes dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo melakukan aksi damai di halaman kantor DPRD setempat.

Ribuan santri itu bergerak sejak pagi buta dari lapangan Kecamatan Pajarakan menuju pusat kota.

Mereka bergerak dengan tertib, sambil membawa spanduk dan poster bertuliskan seruan moral.

Aksi damai yang digelar Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) dan Himpunan Santri Lirboyo (Himasal) Probolinggo itu memprotes tayangan program “Xpose Uncensored” Trans7. Sebab, dinilai melecehkan martabat kiai dan kehidupan pesantren.

Meski diikuti ribuan orang, aksi damai itu berjalan khidmat. Para santri bersila di depan gedung DPRD, bershalawat dan menyimak orasi para kiai muda.

Tak ada tindakan anarkistis, semua berlangsung penuh adab, ciri khas dunia pesantren.

Koordinator aksi, KH. Moh. Hasan Naufal membacakan tujuh tuntutan untuk Trans7, Trans Media Group, dan lembaga pengawas penyiaran nasional.

Di antaranya, menuntut Trans7 menayangkan permintaan maaf resmi di seluruh platform media miliknya.

Kemudian, meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) RI memperketat pengawasan terhadap tayangan yang berpotensi menimbulkan fitnah, kebencian, dan polarisasi sosial. Juga meminta KPI memberikan sanksi tegas terhadap Trans7.

“Kami sebagai santri, atas nama seluruh pondok pesantren se-Kabupaten Probolinggo, menuntut agar Trans7 mengusut tuntas internal mereka. Termasuk home production program tersebut,” tegas Gus Boy (panggilannya) saat orasi.

Meski Trans7 disebut sudah tidak lagi bekerja sama dengan rumah produksi terkait, para santri mendesak adanya “pembersihan total.” Harapannya, framing negatif terhadap dunia pesantren tak terulang.

“Pondok pesantren adalah institusi pendidikan tertua di Indonesia. Kalau ada pihak yang sengaja mencederai simbol-simbol moral seperti kiai, maka kami wajib turun ke jalan,” ujar Gus Boy lantang.

Menurutnya, pembersihan yang dimaksud bukan sekadar pergantian orang.

Namun, penegakan nilai agar tak ada lagi oknum yang memanfaatkan media untuk menyebar narasi antipesantren.

“Sudah sejak 2013–2014 muncul oknum di internal media yang sengaja membuat framing antimaulid, antitahlil, antipesantren, bahkan antikiai. Itu harus diberantas karena mereka menggerogoti moral bangsa dari dalam,” lanjutnya.

Framing-framing negatif itu, menurutnya, mulai terasa dampaknya terutama pada generasi muda. Anak-anak Gen Z mulai menjauh dari pesantren.

“Bukan karena pesantren buruk, tapi karena framing negatif di media. Ini bahaya besar bagi masa depan moral bangsa,” tegasnya lagi.

Bupati Probolinggo Mohammad Haris yang hadir untuk menenangkan massa menegaskan, aksi tersebut merupakan bentuk cinta para santri terhadap nilai-nilai luhur pesantren. Bukan gerakan kebencian, tapi gerakan cinta yang terlukai.

“Para santri datang bukan untuk membuat gaduh, melainkan untuk mengingatkan publik tentang adab dan akhlak di ruang media,” ujar Haris.

Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam bermedia sosial. “Dulu kita diajarkan mulutmu harimaumu, sekarang jarimu bisa jadi harimau juga. Jadi kita semua harus belajar bijak, menjaga narasi agar tetap damai dan beradab,” ucapnya.

Menurut Haris, banyak framing negatif tentang kiai dan pesantren yang perlu diluruskan.

“Kalau santri mencium tangan gurunya, itu adab. Tapi di media bisa disalahartikan. Padahal, inilah kearifan pesantren yang seharusnya dijaga dan dihormati,” tambahnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Didik Humaidi yang menerima aspirasi para santri menyatakan siap menindaklanjuti aspirasi itu ke DPR RI. Khususnya ke komisi terkait bidang penyiaran dan komunikasi.

“Apa yang dilakukan Trans7 itu sudah melewati batas. Tayangan itu tidak objektif, penuh asumsi, dan jauh dari fakta lapangan,” ujar Didik.

Menurutnya, framing semacam itu bisa memicu Islamofobia gaya baru di negeri ini.

“Kalau kepercayaan masyarakat terhadap pesantren menurun, maka terbuka celah bagi ideologi-ideologi keras untuk masuk. Itu yang harus kita cegah bersama,” tegasnya. (mu/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Himasal #pajarakan #trans7 #Xpose Uncensored #santri #kiai #dprd kabupaten probolinggo #poster #probolinggo #aksi damai #Lirboyo