PROBOLINGGO, Radar Bromo - Suasana khidmat menyelimuti Pendapa Prasaja Ngesti Wibawa, Senin (7/10). Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, memimpin langsung prosesi pelantikan dan pengukuhan 130 pejabat struktural di lingkungan Pemkab Probolinggo.
Mereka terdiri dari 69 pejabat eselon III dan 61 pejabat eselon IV, yang meliputi posisi camat, kepala seksi (kasi), kepala subbagian (kasubag), hingga sejumlah jabatan strategis lain.
Pelantikan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, serta sejumlah pejabat Forkopimda.
Dalam sambutannya, Bupati Haris menekankan bahwa jabatan yang diberikan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
“Hari ini (kemarin, red) saya sangat bahagia. Alhamdulillah, kita bisa melaksanakan pelantikan pejabat eselon III dan IV di tempat yang penuh sejarah ini. Semoga membawa berkah dan barokah untuk kita semua,” ujar Haris membuka sambutannya.
Bupati mengingatkan para pejabat yang baru dilantik agar menyadari bahwa jabatan adalah bentuk baiat, bukan sekadar formalitas.
“Bahasa yang lebih dalam dari pelantikan ini adalah dibaiat. Artinya, Anda semua telah menerima amanah dari rakyat. Dan baiat ini bukan hal yang sederhana, karena akan ada hisab di baliknya,” tegasnya di hadapan para pejabat yang dilantik.
Bupati juga menyelipkan pesan sejarah. Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Probolinggo memiliki akar sejarah panjang sejak 1746, dengan nama awal Kabupaten Banger, dan baru resmi bernama Probolinggo pada tahun 1770 di masa Bupati Joyo Negoro.
“Saya ingin mengingatkan sejarah. Tanpa mengenal sejarah, Anda akan sulit benar-benar mengemban amanah. Pendapa Prasaja Ngesti Wibawa ini bukan sekadar rumah dinas. Saya ingin tempat ini menjadi pusat budaya dan sejarah Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.
Dalam arahannya, bupati menyebut pelantikan ini merupakan bagian dari langkah besar memperkuat sistem pemerintahan.
Ia memastikan mutasi ini bukan bentuk pecah kongsi, melainkan penyegaran organisasi agar kinerja lebih optimal.
“Apakah ini untuk memecah gerbong lama? Tidak. Ini refresh, pergeseran yang wajar dalam pemerintahan. Banyak jabatan yang kosong, maka harus segera kita isi agar mesin birokrasi bisa berjalan. Kita ingin orang yang tepat di tempat yang tepat,” ungkapnya.
Haris menambahkan, proses pengisian jabatan dilakukan berdasarkan mapping, profiling, serta hasil assessment kinerja pejabat sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa evaluasi akan terus dilakukan secara berkala.
“Baik di eselon 2, 3, maupun 4, akan kita evaluasi setiap enam bulan. Kalau kerjanya tidak benar, masih bisa diganti, masih bisa digeser,” katanya dengan nada tegas.
Bupati Haris juga memberi pesan moral kepada pejabat yang baru dilantik untuk tidak tinggi hati dan tetap menjaga integritas.
“Jangan sampai jabatan membuat kita sombong. Saya pribadi tidak ada yang bisa saya banggakan sebagai bupati. Jabatan ini berat. Kadang saya saja malu pakai seragam dinas. Kalau cari ATM, saya pilih yang sepi, karena saya tidak ingin merasa lebih dari rakyat saya,” tutur Haris dengan nada rendah hati, disambut tepuk tangan hadirin.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan pemerintah harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau pemerintahan tidak bisa membuat rakyat sejahtera, buat apa ada pemerintahan? Kalau tetap tidak menghasilkan apa-apa, ya autopilot saja sudah cukup,” ujarnya menohok.
Bupati juga menyampaikan lima misi besar yang akan menjadi arah pembangunan Kabupaten Probolinggo ke depan, yakni memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, efektif, efisien, dan bersih.
“Kuncinya ada tiga: jalani dengan hati, bekerja kolaboratif tanpa ego sektoral, dan jaga integritas. Karena jabatan bisa berganti, tapi semangat pengabdian tidak boleh padam,” pesannya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid