Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gudang di Probolinggo Belum Bisa Beri Kepastian Seberapa Banyak Bisa Serap Tembakau Milik Petani, Ini Alasannya

Agus Faiz Musleh • Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:50 WIB

 

SIDAK: Anggota Komisi II mengecek tembakau petani yang dikirim ke gudang CV Sayap Mas Nusantara di Paiton.
SIDAK: Anggota Komisi II mengecek tembakau petani yang dikirim ke gudang CV Sayap Mas Nusantara di Paiton.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo bersama sejumlah pihak melakukan sidak di sejumlah gudang di gudang, Senin (11/8). Ini dilakukan untuk memastikan serapan gudang yang mempengaruhi harga.

Sidak dimulai dari diskusi sejumlah pihak di ruang komisi II kantor DPRD setempat. Hadir dalam diskusi tersebut Dinas Pertanian, DKUPP, Asosiasi Petani Tembakau (APTI) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Dalam diskusi tersebut, terungkap belum ada penambahan data serapan hasil pertanian dari gudang di Kabupaten Probolinggo yakni masih berkisar total 5.200 ton.

“Sejauh ini masih 5 gudang yang telah memberikan data kepada kami,” kata Pelaksana Harian Kabid Bidang Sarana, Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Evi Rosela.

Kelima gudang yang sudah menyampaikan rencana serapan tersebut adalah CV Jaya Abadi (Djarum) dengan 3.000 ton, CV Glagah Surya Abadi 500 ton, CV Lumbung Berkah 500 ton, CV TOP Sumber Sejahtera 500 ton, dan CV Sumber Rejeki 150-200 ton.

Dari sinilah forum tersebut menyepakati untuk turun langsung ke sejumlah gudang yang belum memberikan kepastian terhadap serapan.

Gudang pertama yang di datangi ialah gudang tembakau yang berada di Desa Asembakor, Kraksaan.

Namun di sana rombongan tidak menemukan aktivitas tembakau. Para pekerja mengaku jika gudang tersebut masih belum buka.

Rombongan kemudian berlanjut pada gudang besar di wilayah Paiton. Yakni, Gudang Garam.

Gudang besar ini didatangi oleh rombongan lantaran belum memberikan estimasi serapan tembakau.

Hal inipun dijawab oleh pihak manajemen Gudang Garam saat di lokasi. “Sampai saat ini, saya pun masih menunggu surat keputusan dari pusat, apakah Gudang Garam tahun ini membeli atau enggak,” kata Maria Magdalena Olivia Ayunda pengurus gudang.

Pihak Gudang Garam menyebut jika tahun ini masih belum bisa memastikan, apakah akan ada pengambilan atau tidak. “Biasanya, kami saat mengambil bisa 2.000-3.000 ton di tahun sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Pihak Gudang Garam menegaskan jika selalu membeli tembakau dari Probolinggo. Ini juga menepis tudingan bahwa Gudang Garam membeli hasil tembakau dari daerah lain.

“Tembakau Probolinggo ini seperti nasinya dalam produk kami,  jadi itu benar-benar yang utama seperti itu. Kalau informasi dari pusat alasannya ya karena memang kondisi kami saat ini. Mungkin bapak-bapak juga sudah tahu bahwa kondisi gudang saat ini memang tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Disebutnya, Gudang Garam banyak melakukan efisiensi karena produktivitas menurun. Selain itu penjualan juga menurun. Sehingga produksi pasti akan mempengaruhi penjualan.

Pertanyaan ini pun mendapat respon dari perwakilan anggota APTI. Mereka meminta agar Gudang Garam untuk tetap dapat menyerap hasil tembakau petani. Mengingat konsumen rokok ini di Kabupaten Probolinggo cukup tinggi.

Usai dari Gudang Garam, rombongan ini pun berlanjut ke gudang CV Sayap Mas Nusantara. Di sana gudang tersebut terpantau tengah melakukan aktivitas pengambilan tembakau dari para petani.

“Kami sudah melakukan pengambilan sejak 27 Juli. Kami akan berusaha untuk menetapkan harga yang sesuai dengan harapan masyarakat,” kata Muhammad Zulif Haris, pemegang kuasa pembelian pabrikan dari gudang Sayap Mas Nusantara wilayah Paiton.

Sementara itu, Ketua Komisi II Reno Handoyo menyebutkan, pihaknya berkomunikasi terhadap sejumlah pihak gudang yang didatangi. “Kalau gudang yang pertama, kami sudah komunikasi bahwa pemiliknya sedang di luar daerah,” ujarnya.

Dari hasil sidak, ada sejumlah gudang yang telah mengambil hasil tembakau petani. Harganya cukup tinggi. Yakni dari Rp 50-66 ribu.

“Seperti Sayap Mas, mengambilnya cukup tinggi dengan nilai serapan 600 ton. Inipun masih bisa bertambah,” ujarnya.

Di sisi lain, Dinas Pertanian memprediksi hasil panen tembakau petani setempat mencapai 11 ribu ton. Namun sejauh ini estimasi serapan oleh para gudang yang menyetorkan datanya masih sekitar 6 ribu ton.

Dengan begitu, Komisi II DPRD setempat bakal memasifkan pengecekan kepada gudang yang belum memiliki kejelasan. Hal ini didorong oleh sidak yang dilakukan kepada salah satu gudang yang belum masuk dalam list serapan dinas pertanian kabupaten Probolinggo.

“Di CV Sayap Mas Nusantara (salah satu gudang, red) kami menemukan belum masuk dalam list Dinas Pertanian namun sudah mulai mengambil tembakau dengan tareget serapan 600 ton. Dengan harga yang tinggi pula,” kata ketua komisi II DPRD kabupaten Probolinggo Reno Handoyo.

Pihak DPRD akan terus melakukan pengecekan gudang tembakau secara berkala  yang masih belum jelas. “Secara berkala kami akan cek gudang-gudang yang belum jelas dari 16 gudang, baru lima gudang dan ditambah CV Sayap Mas Nusantara ini yang baru menyerahkan rencana serapannya,” ujarnya.

Perihal harga di tingkat petani berkisar Rp 35-40 ribu perkilo. Dia menyebut jika harga ini dipengaruhi dari permainan dari para tengkulak. “Karena belum jelasnya gudang-gudang ini, sehingga harga oleh tengkulak ini merupakan harga perkiraan. Padahal jika petani langsung ke gudang harganya bisa sampai Rp 66 ribu perkilonya,” ujarnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#tembakau #petani tembakau #rokok #probolinggo