KRAKSAAN, Radar Bromo - Harapan membangun kembali ruang kelas yang rusak di SDN Kalibuntu 1, Kecamatan Kraksaan, masih tertunda.
Meski kerusakan cukup parah akibat abrasi dan banjir yang melanda awal tahun lalu, rencana perbaikannya harus bersabar hingga tahun depan.
Kerusakan terjadi pada empat ruang kelas di sisi timur sekolah yang tergerus air. Meski beberapa upaya sudah dilakukan Pemkab Probolinggo, pembangunan belum bisa dilaksanakan karena berbagai kendala teknis dan anggaran.
“Jadi, bukan hanya pembangunan empat kelas saja yang kami pikirkan. Namun bagaimana lokasinya aman. Sebab sisi timur itu masih tergerus air. Kalau dibangun tanpa perhitungan, bisa rusak kembali,” kata Sri Agus Indaryati, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Selasa (5/8).
Menurut Sri Agus, pembangunan ulang gedung yang rusak ini diproyeksikan memakan biaya lebih dari Rp 1 miliar.
Karena akan dibangun secara bertingkat dan disertai upaya penguatan tanah di sekitarnya.
Namun hingga kini, kebutuhan dana tersebut masih belum terpenuhi. “Kami sudah berupaya melalui berbagai jalur, termasuk pengajuan lewat dana tidak terduga. Tapi terkendala teknis karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi. Jalan masuk terlalu sempit,” jelasnya.
Rencananya, pembangunan tersebut bakal diusulkan kembali pada tahun 2026 melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
“Sekolah ini masih punya beberapa ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Jadi, kita bersabar dulu. Yang jelas, kalau dianggarkan tahun depan, maka pembangunan harus dilakukan bersamaan dengan pemerataan tanah di lokasi yang rusak itu,” tambahnya.
Tak hanya pemkab, Pemprov Jawa Timur juga menunjukkan atensi terhadap kondisi SDN Kalibuntu 1. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bahkan turun langsung meninjau kondisi sekolah tersebut beberapa waktu lalu.
“Ada proses sementara yang dilakukan pemprov, salah satunya plengsengan. Lalu ada beberapa item pekerjaan yang berkaitan dengan ketahanan tanah di sekitar sekolah,” ujar Khofifah saat kunjungan ke Kalibuntu.
Khofifah juga membuka peluang bantuan dari provinsi. “Kalau misalnya ada lima ruang yang harus diperbaiki, saya waktu itu menyampaikan: silakan sampaikan permohonan ke pemprov. Surat itu bisa diajukan atas nama Badan Keuangan Daerah,” terangnya.
Saat ini, penanganan yang bisa dilakukan baru sebatas darurat, sementara pembangunan permanen masih menunggu alokasi anggaran yang memadai. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera menuntaskan koordinasi lintas instansi agar gedung sekolah yang rusak dapat kembali berdiri kokoh dan aman untuk kegiatan belajar mengajar. (mu/fun)
Editor : Fahreza Nuraga