Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sepuluh Wilayah di Kabupaten Probolinggo Masih Dipantau karena Pancaroba Tetap Ada Demam Berdarah

Achmad Arianto • Senin, 21 Juli 2025 | 17:10 WIB
KASUS MENONJOL: Petugas melakukan fogging di Kecamatan Pajarakan. Petugas terus memantau wilayah temuan demam berdarah.
KASUS MENONJOL: Petugas melakukan fogging di Kecamatan Pajarakan. Petugas terus memantau wilayah temuan demam berdarah.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini terus diwaspadai.

Untuk menekan kasus DBD, Dinas Kesehatan menurunkan petugas untuk rutin melakukan pemantauan wilayah temuan.

Penyebaran penyakit DBD masih berpotensi terjadi. Pasalnya pada peralihan musim seperti saat ini risiko penyebaran DBD bisa terjadi. Tidak menentunya suhu dan kondisi curah hujan menjadi pemicu tingginya perkembangbiakan nyamuk.

Khususnya pada lingkungan yang memiliki genangan air yang tidak terpantau. Tempat ini menjadi media perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor utama penularan DBD.

“Potensi penyebaran penyakit DBD masih bisa terjadi. Tentunya perlu upaya untuk menekan jumlah kasus yang saat ini telah dilaporkan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika.

Ia menjelaskan saat ini ada 10 wilayah dengan temuan kasus DBD tertinggi. Diantaranya wilayah Puskesmas Kraksaan, Paiton, dan Krejengan, Maron, Lumbang, Dringu, Wangkal, Tegalsiwalan, Pajarakan, dan Gending.

Wilayah tersebut menjadi perhatian serius. Karena itulah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk proaktif melakukan pemantauan wilayah dan segera menindaklanjuti jika ditemukan kasus DBD.

Tidak cukup sampai di situ. Agar penanggulangan penyakit lebih maksimal perlu kolaborasi lintas sektor. Serta peran serta masyarakat adalah kunci pengendalian wabah.

Nina menuturkan upaya fogging dapat dilakukan pada wilayah temuan DBD yang menonjol. Tetapi fogging hanyalah salah satu metode pengendalian.

Upaya menekan kasus yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Jika sarang nyamuk tidak diberantas, potensi penularan penyakit akan tetap tinggi.

“Ada wilayah dengan temuan menonjol. Namun demikian bukan berarti wilayah lain terbebas dari potensi DBD. Upaya sudah kami lakukan. Tentunya dalam hal pencegahan juga perlu sinergi dengan masyarakat,” bebernya. (ar/fun)

Editor : Fahreza Nuraga
#nyamuk #Foging #dbd #kesehatan