KRAKSAAN, Radar Bromo - Riuh ombak dan gemuruh warga menyatu di pesisir Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Rabu (9/7).
Semuanya mengikuti tradisi petik laut, acara adat rutinan yang lekat dengan spiritualitas dan budaya pesisir. Ribuan warga tumpek blek menyaksikan prosesi larung sesaji yang berlangsung sejak pagi hingga siang.
Acara ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap laut sebagai sumber penghidupan.
Tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya warga, pemuka adat, nelayan, hingga pejabat daerah.
Di balik tampilan seremonialnya, petik laut menyimpan makna mendalam: rasa syukur yang dibungkus harapan akan laut yang terus memberi.
Puncak acara ditandai dengan prosesi larung sesaji berbagai hasil bumi yang dibawa dengan perahu kecil lalu dilarung ke tengah laut.
Tradisi ini dipercaya sebagai wujud terima kasih atas hasil tangkapan laut, sekaligus permohonan agar musim melaut berikutnya membawa keberkahan.
“Ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk spiritualitas masyarakat pesisir yang tumbuh dari pengalaman hidup bersama laut,” ujar seorang warga yang ikut mengangkat sesaji dari pantai.
Bupati Probolinggo, Gus Haris, menilai petik laut sebagai salah satu warisan kearifan lokal yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Namun, ia juga menyadari tantangan ke depan: bagaimana merawat tradisi tanpa kehilangan makna, sambil terus mendorong desa berkembang.
“Tradisi ini lahir dari rasa syukur dan kesadaran kolektif. Ini bukan tontonan, tapi pengingat bahwa budaya tumbuh dari kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Wabup Fahmi AHZ bersama para tokoh daerah turut serta dalam pelepasan perahu sesaji, yang didahului kirab dari pintu masuk desa.
Iringan salawat menambah suasana khidmat. Prosesi itu bukan pertunjukan, melainkan tradisi hidup yang masih terasa relevan bagi masyarakat Kalibuntu.
“Kalibuntu punya potensi laut yang besar. Tradisi ini bisa dikembangkan jadi pengungkit ekonomi, apalagi kalau dikaitkan dengan UMKM dan pariwisata desa,” jelas wabup Fahmi AHZ.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemkab untuk mendorong percepatan pembangunan berbasis potensi lokal.
Di tengah gegap gempita acara, Kepala Desa Kalibuntu Khairul Anam menegaskan pentingnya sinergi dalam pembangunan.
Ia berharap petik laut bukan hanya jadi acara tahunan yang dirayakan, tetapi juga menjadi titik tolak penguatan identitas dan kemandirian desa.
“Tanpa kebersamaan, pembangunan desa akan pincang. Kami ingin petik laut ini menjadi pengingat bahwa desa adalah ujung tombak kemajuan,” ujarnya.
Khairul juga mengajak masyarakat untuk tak sekadar menikmati tradisi ini, tetapi juga ikut aktif menjaga lingkungan laut, mendorong pemanfaatan hasil tangkapan secara berkelanjutan, dan mendukung program-program pemberdayaan ekonomi.
“Tradisi ini milik kita bersama. Kalau ingin Kalibuntu maju, kita semua harus ambil peran. Bukan hanya soal budaya, tapi juga soal masa depan,” pungkasnya. (mu/fun)
Editor : Fahreza Nuraga