UPAYA memperkuat ketahanan pangan jadi perhatian Pemerintah Desa (Pemdes) Pohsangit Lor, Kecamatan Wonomerto. Langkah yang diambil dengan mengembangkan tanaman buah-buahan di lingkungan desa.
Program ini tak hanya untuk meningkatkan ketersediaan pangan lokal. Tapi juga sebagai bentuk pemanfaatan lahan agar menjadi produktif dan berkelanjutan.
Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, berbagai jenis tanaman buah ditanam di pekarang rumah, lahan tak produktif, hingga jalur hijau desa.
Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi desa untuk mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus memerangi pemanasan global.
Kepala Desa Pohsangit Lor, Ahmad Taufik mengatakan bahwa Desa Pohsangit Lor sejatinya telah menjadi desa tematik sejak tahun 2023. Sejak itu pula beberapa komoditas buah ditanam di tiap dusunnya.
“Di tiap dusun kami menanam beragam jenis buah, tapi dusunnya berbeda-beda,” ujar Taufik.
Rinciannya, di Dusun Blimbing ditanam buah kelengkeng diamond river dan blimbing dewi. Di Dusun Waru, dikembangkan jeruk siam madu dan rambutan.
Sementara Dusun Kelor menjadi lokasi budi daya jambu kristal merah, jambu kristal putih, serta anggur red prince. Sementara Dusun Krajan ditanami black sapote dan jambu citra. Terakhir, di Dusun Kolor dikembangkan tanaman alpukat dan durian musang king.
“Seluruh pohon buah tersebut kami tanam di pekarangan rumah warga. Harapannya, ketika sudah berbuah, bisa dikonsumsi langsung untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga atau dijual sebagai sumber tambahan pendapatan. Intinya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.
Di tahun ini, pengembangan program diperluas dengan penanaman 120 batang pohon jambu citra yang ditempatkan di tiga dusun: Kelor, Krajan, dan Kolor. Penanaman dilakukan per blok agar memudahkan proses pengawasan dan perawatan.
Selain itu, sebanyak 100 pohon Matoa juga ditanam di sepanjang jalan desa untuk mempercantik lingkungan sekaligus menambah potensi buah yang bisa dipanen.
Taufik optimistis, jika program ini terus berjalan dengan baik, Pohsangit Lor yang dihuni sekitar 1.100 kepala keluarga bisa berkembang menjadi desa wisata buah.
“Jika minimal 90 persen pohon yang kami tanam dapat berbuah, ini bisa jadi potensi besar. Wisatawan yang pulang dari Gunung Bromo bisa mampir menikmati wisata petik buah di desa kami,” jelasnya.
Selain untuk konsumsi dan wisata, Taufik menyebut bahwa hasil panen juga berpeluang mendatangkan pendapatan asli desa (PAD).
Sebab, jenis buah yang ditanam dipilih berdasarkan nilai ekonominya yang tinggi dan keberlanjutan hasilnya.
“Contohnya jambu citra dan black sapote. Harga jambu citra relatif stabil, berkisar antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu perkilogram, dan masih belum banyak daerah yang mengembangkan komoditas ini. Jadi kami melihat ini sebagai peluang,” beber Taufik.
Bangun Pagar Sekolah-Gelar Pelatihan
Pemerintah Desa (Pemdes) Pohsangit Lor, Kecamatan Wonomerto tak hanya fokus pada ketahanan pangan dalam pembangunan tahap pertama tahun ini. Pemdes juga memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Salah satu bentuk konkret dari komitmen tersebut adalah pembangunan pagar permanen untuk TK Mawar Putih yang terletak di Dusun Kolor.
Sebelumnya, pagar sekolah tersebut hanya terbuat dari kayu sederhana. Kini, berkat pembangunan desa, pagar sepanjang 56 meter dengan tinggi 2 meter telah berdiri kokoh, memberikan rasa aman dan nyaman bagi aktivitas belajar-mengajar di lembaga pendidikan tersebut.
“Kami ingin anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Bagaimanapun, pendidikan anak usia dini sangat penting sebagai fondasi dalam membentuk kualitas SDM generasi mendatang,” ujar Kepala Desa Pohsangit Lor, Ahmad Taufik.
Tak berhenti pada infrastruktur pendidikan, Pemdes Pohsangit Lor juga terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan.
Sejak tahun 2024, desa secara rutin menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang menyasar berbagai kelompok usia dan profesi.
Taufik menjelaskan, pelatihan digital menjadi salah satu program prioritas, terutama ditujukan bagi kalangan muda yang putus sekolah.
Pelatihan ini bertujuan agar mereka lebih melek teknologi dan mampu memanfaatkan keterampilan digital untuk menghasilkan pendapatan.
“Kami ajarkan dasar-dasar desain, teknik pemasaran online, hingga cara menggunakan media sosial untuk bisnis,” katanya.
Sementara itu, pelatihan pertanian lebih difokuskan kepada para petani agar dapat mengelola pupuk secara tepat guna. Dengan pelatihan ini, petani diajak memahami cara penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman agar hasil panen meningkat tanpa merusak kesuburan tanah.
Di tahun ini, Pemdes juga menggagas pelatihan kerajinan tangan berupa pembuatan sangkar burung dari bambu. Hal ini dilatarbelakangi oleh potensi lokal yang belum tergarap secara maksimal.
Menurut Taufik, di desanya banyak tumbuh pohon bambu dan ada pedagang sangkar burung yang sudah menjual produknya hingga ke luar provinsi. “Sayangnya, pedagang tersebut selama ini masih mengambil stok dari luar desa. Padahal jika warga di sini bisa membuat sangkar sesuai spesifikasi pasar, maka kita bisa menciptakan peluang ekonomi lokal yang lebih besar,” jelasnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan akan tumbuh pelaku usaha kerajinan di desa yang mampu memenuhi permintaan pasar sekaligus memberdayakan potensi sumber daya alam yang ada di sekitar.
“Kami ingin pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga menyentuh peningkatan kualitas SDM dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” pungkas Taufik. (gus/fun/*)
APBDES PEMERINTAH DESA POHSANGIT LOR TAHUN ANGGARAN 2025
PENDAPATAN
Pendapatan Asli Desa: Rp 11.440.000,00
Pendapatan Transfer: Rp 1.465.141.404,00
Pendapatan Lain-Lain: Rp 0,00
JUMLAH PENDAPATAN: Rp 1.476.581.404,00
BELANJA
Belanja Pegawai: Rp 384.783.120,00
Belanja Barang dan Jasa: Rp 606.162.003,69
Belanja Modal: Rp 273.628.000,00
Belanja Tidak Terduga: Rp 18.000.000,00
JUMLAH BELANJA: Rp 1.282.573.123,69
SURPLUS/DEFISIT: Rp 194.008.280,31
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan: Rp 17.655.719,69
Pengeluaran Pembiayaan: Rp 211.664.000,00
PEMBIAYAAN NETTO: (Rp 194.008.280,31)