Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Usai Jual Sawah Warisan, Sekeluarga di Besuk Probolinggo Disekap Perampok Bersenjata Celurit-Pistol, Ini yang Digondol

Agus Faiz Musleh • Minggu, 1 Juni 2025 | 23:29 WIB

 

ACAK-ACAKAN: Polisi melakukan olah TKP di rumah Nurul Fatah di Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo yang dirampok, Minggu (1/6) dini hari.
ACAK-ACAKAN: Polisi melakukan olah TKP di rumah Nurul Fatah di Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo yang dirampok, Minggu (1/6) dini hari.

BESUK, Radar Bromo-Kawanan perampok beraksi di Dusun Bago Kidul, Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Minggu dinihari (1/6). Kawanan pelaku yang membawa celurit dan pistol pun menyekap korban.

Yang jadi sasaran adalah keluarga Nurul Fatah, 49, yang beberapa waktu lalu usai menjual sawah miliknya.

“Saya tidur ngemper di ruang tamu bersama istri dan anak-anak. Tiba-tiba istri saya dibanguni pelaku,” tutur Nurul Fatah dengan nada getir.

Istrinya, Jamilatul Nazilah, 38, menjadi orang pertama yang tersentak dari tidur.

Seorang pelaku menyentuh tubuhnya, lalu berbisik dengan ancaman mematikan.

“Pertama saya dibangunkan, terus bilang: ‘jangan ramai atau saya bacok’. Ngomongnya pakai bahasa Madura,” ujar Nazilah dengan suara parau.

Tak berselang lama, giliran Fatah yang dibangunkan dengan tendangan keras ke kaki.

“Ditendang kaki, kemudian bilang, ‘jangan bersuara nanti saya bacok kepalamu,’” kenangnya sambil memeragakan bagaimana celurit kala itu mengalungi lehernya.

Kengerian belum selesai. Fatah kemudian diseret ke depan kamar. Ia dipiting, diikat menggunakan tali rafia dan dilakban.

Lalu disorot dengan senter LED ke mata, hingga tak bisa melihat jelas. Dalam kepanikan dan ketidakberdayaan, ia menyadari istri dan anak-anaknya sudah dalam kondisi terikat.

“Kondisi istri dan anak yang paling tua saya tahu sudah terikat,” ucapnya pelan.

Para pelaku lalu mengobrak-abrik seisi rumah, mencari uang dan harta.

“Mereka terus-menerus tanya, ‘Uangnya di mana? Kamu punya uang, taruh di mana uangnya?’” ujar Fatah menirukan suara para pelaku yang mendesak tanpa ampun.

Ia menjelaskan kepada mereka bahwa tak ada uang tunai selain sekitar Rp 2,5 juta di tas dan dompet.

Namun dua ponsel dan anting emas yang dipakai istrinya juga turut digondol.

Tak berhenti sampai di sana, pelaku juga menanyakan buku rekening. Fatah menjelaskan bahwa rekeningnya hanya berisi dana bantuan PKH. "Rekeningnya, dibawa oleh pelaku," katanya.

Namun yang paling mungkin jadi motif, adalah kabar bahwa keluarga Fatah baru saja menjual sawah warisan seluas lebih dari 1 hektare.

Tanah itu terjual sepekan lalu senilai Rp 700 juta. Setelah dipotong biaya calo, administrasi notaris, dan pengeluaran lain, tersisa Rp 400 juta, yang rencananya akan dibagi empat dengan saudaranya.

“Benar (jual sawah warisan), apakah ada hubungannya dengan ini? saya kurang paham. Tapi, uangnya tidak saya pegang. Dipegang saudara lain, dan ada direkening," ujar Fatah terbuka.

“Sisanya 400 juta. Uang ini masih mau dibagi-bagi. Dan uangnya ini belum ada di saya. Masih di rekening saudara,” tambahnya.

Namun, tak hanya mereka berdua yang jadi korban. Anak sulung mereka, Alex, yang baru berusia 12 tahun, juga ikut diikat.

“Sempat anak saya ini mau nangis, tapi diancam mau dibunuh. Akhirnya tidak nangis. Sekarang anak saya trauma, tidak mau ngomong apa-apa,” tutur Fatah penuh duka.

Beruntung, dalam diam dan takut, Alex justru menjadi pahlawan kecil di rumah itu. (mu/mie)

Editor : Muhammad Fahmi
#perampok #besuk #celurit #disekap #Jual Sawah #pistol #probolinggo