Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Program Layanan Sedot WC di Kabupaten Probolinggo Belum Merata, Butuh Edukasi ke Masyarakat

Agus Faiz Musleh • Rabu, 21 Mei 2025 | 19:40 WIB
SUMBANG PENDAPATAN: Petugas Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) saat menyedot lumpur tinja atau sedot WC di salah satu rumah warga.
SUMBANG PENDAPATAN: Petugas Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) saat menyedot lumpur tinja atau sedot WC di salah satu rumah warga.

KRAKSAAN, Radar Bromo–Upaya peningkatan layanan sanitasi di Kabupaten Probolinggo kini tengah digencarkan melalui pengembangan layanan penyedotan lumpur tinja (sedot WC, red) yang dijadwalkan secara berkala.

Efektivitas program ini masih bergantung pada partisipasi masyarakat dan ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Probolinggo mengembangkan program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT).

Sasarannya rumah tangga, sekolah, tempat ibadah, hingga fasilitas umum yang menggunakan sistem septic tank yang berbayar.

Program ini bertujuan mencegah pencemaran lingkungan akibat septic tank yang tidak dikuras secara berkala.

Menurut Kepala DPKPP Roby Siswanto, salah satu kendala utama dalam program ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya perawatan sistem sanitasi.

“Banyak warga masih berpikir septic tank bisa digunakan tanpa batas waktu. Padahal, jika dibiarkan penuh atau bocor, bisa mencemari tanah dan air,” ujarnya.

DPKPP saat ini mengoperasikan tiga unit truk penyedot tinja yang bergerak berdasarkan permintaan masyarakat, terutama di wilayah padat penduduk.

Sementara proses pengolahan limbah tinja dilakukan di Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan.

“Keberadaan IPLT penting untuk memastikan lumpur tinja diproses sebelum dibuang, agar tidak langsung mencemari lingkungan,” kata Roby.

Edukasi menjadi salah satu pendekatan yang saat ini digencarkan DPKPP, mengingat sejumlah warga belum menyadari risiko kesehatan dari septic tank yang tidak dikelola dengan benar.

“Kami sosialisasikan dampaknya, seperti bau tak sedap, pencemaran air tanah, sampai potensi penularan penyakit,” lanjut Roby.

Meski program LLTT sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu, cakupan wilayah layanan masih belum merata.

Roby menyebutkan bahwa sejumlah desa belum terjangkau karena keterbatasan armada dan aksesibilitas. (mu/fun)

Editor : Fahreza Nuraga
#septic tank #pad kabupaten probolinggo #sanitasi