KRAKSAAN, Radar Bromo– Kabupaten Probolinggo menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang stabil selama tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 4,52 persen pada 2022, meningkat menjadi 4,73 persen pada 2023, dan kembali naik ke angka 4,82 persen pada tahun 2024.
Meskipun belum masuk kategori daerah dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa Timur, angka ini menempatkan Kabupaten Probolinggo pada level pertumbuhan menengah di antara 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Sebagai perbandingan, Kabupaten Pasuruan mencatat pertumbuhan sebesar 5,34 persen, dan Kota Probolinggo sebesar 5,15 persen di tahun yang sama.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Juwono Prasetijo Utomo menilai, capaian ini sebagai hasil dari konsistensi dan pemulihan ekonomi pascapandemi.
Guna mempersempit jarak dengan daerah lain yang lebih baik, Pemkab Probolinggo akan melalui peningkatan investasi dalam daerah.
“Ada rancangan perda, pemberian insentif dan kemudahan investasi. Salah satu penggerak peningkatan Investasi di dalam daerah. Hal ini sesuai dengan apa yang diinginkan bupati,”ujarnya.
Sesuai arahan bupati, pemerintah daerah ke depan tidak hanya mengandalkan belanja APBD untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Belanja APBD itu hanya sebagian kecil dari total PDRB (produk domestic regional bruto, red). Selebihnya berasal dari sektor non-APBD seperti swasta dan investor. Jadi, kami hanya memfasilitasi. Kalau bicara pertumbuhan ekonomi, ya harus bicara industri, perdagangan, dan pariwisata. UMKM itu lebih ke pemerataan ekonomi,” jelasnya.
Selain itu disebutnya, pemerintah mendorong pendekatan yang lebih kolaboratif dengan akademisi dan pelaku usaha untuk merancang kebijakan investasi yang tepat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Zainul Hasan (Unzah) Genggong, Nuntupa, M.M., memberikan catatan penting terkait keterbatasan infrastruktur dan kualitas pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Probolinggo. “Kalau kita bandingkan dengan Pasuruan atau Kota Probolinggo, mereka punya akses dan infrastruktur yang lebih baik. Kita di sini masih (menemui, red) banyak jalan yang belum layak. Pendidikan di beberapa wilayah juga masih rendah, dan itu berdampak pada daya saing ekonomi,” ujar Nuntupa.
Ia menambahkan, secara teori investasi memang bisa mendorong laju ekonomi, namun harus tepat sasaran.
“Investasi harus diarahkan ke sektor yang potensial dan punya peluang pengembalian yang jelas. Di Probolinggo, sektor wisata masih punya potensi besar, tapi tentu harus ditunjang dengan infrastruktur dan manajemen yang baik,” terangnya.
Menurutnya, sektor lain seperti kuliner atau ekonomi kreatif juga bisa berkembang. Namun tantangan transportasi dan logistik masih menjadi kendala utama. “Sektor wisata sejauh ini yang paling realistis dikembangkan. Tapi sekali lagi, harus ada dukungan kebijakan dan kesiapan lapangan,” katanya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid