SEJUMLAH bukti sejarah perjuangan spiritual para ulama terdahulu masih banyak ditemukan. Salah satunya Musala Ar-Ridwan di RT 1/RW 2 Desa Kedungcaluk, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.
Bukan sekadar tempat ibadah, Musala Ar-Ridwan menjadi simbol keteguhan iman yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman K.H. Ridwan Kedungcaluk. Seorang ulama besar yang merupakan santri langsung dari Syekh Hasan Genggong atau lebih dikenal sebagai Kiai Hasan Sepuh Genggong.
Nama Musala Ar-Ridwan diambil dari nama K.H. Ridwan Kedungcaluk. Seorang ulama yang berperan besar dalam membangun spiritualitas masyarakat Desa Kedungcaluk. Ia pernah nyantri di Pesantren Zainul Hasan Genggong di bawah asuhan Kiai Hasan Sepuh.
Salah seorang warga setempat, Miftahul Ulum mengatakan, musala ini telah ada sejak zaman Kiai Hasan Sepuh. Serta, menjadi tempat ibadah utama warga sebelum masjid di Desa Kedungcaluk dibangun.
“Sebelum masjid dibangun, warga menjadikan musala ini sebagai tempat ibadah,” ujarnya, Minggu (9/3).
Kala itu, Kiai Ridwan yang meminta warga sekitar mendirikan musala ini. Agar dapat digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan. Benar saja, sejauh ini musala ini tetap menjadi pusat ibadah. Terutama bagi warga sepuh yang tinggal di sekitar musala.
Setiap malam, terutama saat Ramadan, musala ini selalu dipenuhi jemaah. Musala dengan kapasitas lebih dari 30 jemaah cukup untuk menampung warga sekitar yang hendak beribadah.
“Kalau tarawih jemaahnya penuh. Terutama dari hari pertama sampai hari ke-15 Ramadan, hampir semua tempat terisi,” kata Miftahul Ulum.
Selain salat berjamaah, Musala Ar-Ridwan juga menjadi pusat kegiatan keagamaan saat peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra Mikraj.
Kini, musala ini dikelola oleh generasi keempat dari jemaah Kiai Ridwan. Meski kegiatan pengajian lebih sering dilakukan di masjid Desa Kedungcaluk, musala ini tetap menjadi tempat utama bagi warga sepuh untuk beribadah bersama.
“Musala ini memang didirikan untuk jemaah yang sudah sepuh. Agar mereka lebih mudah menjalankan ibadah tanpa harus pergi jauh ke masjid,” jelas Miftahul Ulum.
Musala Ar-Ridwan bukan sekadar bangunan tua, tetapi simbol keteguhan iman dan perjuangan dakwah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap sudutnya menyimpan doa, harapan, dan keberkahan yang akan terus mengalir bagi siapa saja yang datang untuk beribadah.
“Harapan kami, musala ini tetap terjaga dan menjadi tempat ibadah yang makmur. Semoga semakin banyak yang merasakan manfaatnya,” harap Miftahul Ulum. (agus faiz musleh/rud)
Editor : Ronald Fernando