MASA hidup almarhum KH. Badri Mashduqi banyak diabdikan untuk agama dan bangsa. Bahkan, beliau terkenal kritis. Saking getolnya mengkritisi pemerintah, beliau sempat ditangkap tentara saat berdakwah.
Di Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo terdapat banyak pondok pesantren (ponpes). Salah satunya, Ponpes Badridduja yang didirikan oleh seorang ulama kharismatik KH. Badri Mashduqi.
Kiai kelahiran 1 Juni 1942 tersebut merupakan pengasuh Ponpes Badridduja yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar. KH. Badri termasuk tokoh multifaset.
Selain berkiprah di dunia pendidikan pesantren, beliau juga memiliki peran yang tidak sedikit dalam percaturan politik, dan intelektualitas. Baik di level politik lokal, regional, dan bahkan nasional.
Salah seorang putra almarhum KH. Badri, Tauhidullah Badri mengaku, sosok almarhum lebih dikenal masyarakat pada era 1970 an. Saat itu, para ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang berkiprah mengkritisi kepemimpinan Presiden Soeharto, salah satunya adalah almarhum KH. Badri.
Beliau termasuk golongan ulama yang tegas dan keras mengkritisi pemerintahan Soeharto.
Kritiknya itu, banyak disampaikan Kiai Badri termasuk dalam acara pengajian umum. Almarhum seakan tidak pernah punya rasa takut untuk menjelaskan kondisi pemerintahan Republik Indonesia (RI) yang sangat tidak berpihak pada rakyat di era 1970.
Bahkan, almarhum merupakan salah satu tokoh ulama NU yang pertama pernah ditangkap aparat keamanan lantaran mengkritisi pemerintah.
“Almarhum ditangkap saat berpidato di Jember. Saat itu, para tentara mengepung dan membawa abah (Almarhum Kiai Badri, Red) untuk ditahan. Bahkan, ada yang bilang, para tentara itu sempat menembaki abah. Tapi tembakan itu tidak mengeluarkan peluru. Malah mengeluarkan air,” ujar Tauhidullah, kepada Radar Bromo.
Mustofa Badri putra almarhum Kiai Badri yang lain mengatakan, abahnya merupakan tokoh yang multidimensi. Aktivitas, dan kiprahnya sangat luas. Meliputi beberapa aspek seperti ngopeni dan membina NU, aktif di politik, aktif di pendidikan, dan sebagai pemimpin Thariqah Tijaniyah di Indonesia.
Tak lupa kiprahnya di dalam dunia keilmuan, dan dakwah. Semua itu bisa dilakukan almarhum Kiai Badri dikatakan Mustofa, karena semangat pengabdiannya yang tinggi. Serta kapasitas ilmu agamanya yang sangat mendalam dan luas.
Bahkan, seluruh kiprah dan aktivitas almarhum merupakan bentuk pengabdian kepada umat, bangsa, dan agama. Bukan semata-mata untuk karir atau kepentingan pribadi.
“Abah saya itu paling tidak suka dan tertarik dengan jabatan pemerintahan. Beliau menolak menjadi anggota MPR RI pada tahun 1980-an. Akhirnya, digantikan oleh KH. Yusuf Hasyim,” ungkapnya.
Menurut Mustofa, almarhum sudah tinggal di ponpes sejak masih berusia 8 tahun. Yakni, pada 1950, Kiai Badri kecil mondok di Ponpes Zainul Hasan (Zaha) Genggong, Pajarakan Kabupaten Probolinggo. Beliau, berguru pada KH. Moh Hasan Genggong alias Kiai Hasan Sepuh.
Nah, semasa di pesantren itu, Kiai Badri tidak pernah dikirim oleh ibunya, Nyai Musyarrah.
Setelah belajar dari Ponpes Zaha, Kiai Badri melanjutkan pendidikannya ke Ponpes Bata-Bata, Pamekasan, Madura, sampai pada 1956. Di ponpes ini, Kiai Badri sering berpuasa dan aktif berdiskusi.
Di pesantren Kiai Badri dikenal cerdas, dan dikagumi tidak hanya oleh kalangan santri. Almarhum KH. Ahmad Djauhari, pendiri pesantren Al-Amin Prenduan pernah berkata kepadanya: Be’en penteran bi’ senggko’ cong (kamu lebih pintar ketimbang saya, nak).
Pada 1959 sampai tahun 1965, Kiai Badri kembali pindah pesantren. Yakni, ke Ponpes Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo. Di Nurul Jadid, Kiai Badri belajar pada KH. Zaini Mun’im. Di sana, Kiai Badri banyak menimba pengalaman. Baik sebagai guru, maupun sebagai aktivis dakwah, keilmuan, dan organisasi.
“Tidak seperti santri lain. Almarhum sering mengunci diri di kamar. Di kamarnya, beliau menjejerkan kitab-kitab, buku, majalah, dan koran. Seolah-olah di kamarnya terdapat seorang guru yang tengah mengajarnya,” ujar Mustofa.
Nah, kejadian itu sering membuat teman sekamarnya heran, dan tercengang. Lebih dari itu, almarhum Kiai Badri juga jarang ke luar kamar sampai berpuluh-puluh hari.
Namun, kini Kiai Badri sudah tiada. Beliau harus berpulang ke rahmatullah pada 14 Oktober 2002. Syukur, masih banyak keturunan yang hendak meneruskan perjuangannya.
Kiai Badri wafat dengan meninggalkan delapan putra dari dua orang istri. Yakni, enam putra terlahir dari istri pertamanya, Nyai Hj Maryammah, dan dua putra dari istri keduanya, Nyai Hj Hamidah.
“Saya, dan adik Tauhidullah adalah putra dari istri pertama. Sekarang yang mengurus ponpes peninggalan abah kami berdua,” ujar Mustofa.
Sampai kini, putra-putri almarhum Kiai Badri terus menjaga dan meneruskan perjuangan beliau. Ponpes Badridduja tetap eksis, dan bahkan memiliki ribuan satri.
Pelajaran salafiyah dan umum disinergikan dengan baik. Bahkan, ponpes lainnya yang didirikan oleh putra-putri almarhum juga semakin eksis.
“Pesantren ini didirikan sejak tahun 1969. Sampai sekarang santri penerus abah mencapai 1.500-an santri,” ungkapnya. (mas/rud)
*Artikel ini telah terbit di koran Jawa Pos Radar Bromo pada 2012 silam
Editor : Muhammad Fahmi