Sebabnya, sampah di TPS Kelurahan Semampir, meluber hingga ke jalan raya. Kondisi tersebut dikeluhkan warga lantaran menimbulkan pemandangan kotor dan bau tidak sedap.
Seperti yang dikatakan Bahri, 40, warga Kelurahan Semampir Bahri. Kata dia, tumpukan sampah memang hampir terlihat setiap hari. Namun volume sampah lebih banyak terjadi saat akhir pekan atau saat libur.
“Sampah setiap hari pasti ada. Tapi kalau sudah akhir pekan atau liburan panjang, memang lebih banyak,” katanya.
Bahri menuturkan. dampak dari sampah tersebut membuat lingkungan sekitar TPS Semampir menjadi tidak nyaman.
Sampah yang menggunung menimbulkan pemandangan kotor dan tidak enak dipandang. Sampah yang telat angkut akan menimbulkan bau, mengganggu warga baik yang berada di sekitar TPS maupun warga yang melintas.
Sebab ruas jalan yang berada tepat didepan TPS merupakan akses menuju pasar Semampir dan menuju Desa Bulu.
Sementara dampak bagi ekonomi warga, ada beberapa pedagang yang berjualan di dekat TPS Semampir.
Tumpukan sampah menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi itu akan mempengaruhi omset pedagang.
Warga menjadi enggan membeli karena lingkungan sekitar tempat berjualan terlihat kotor dan kurang higienis.
“Tentunya kalau sampah sudah menumpuk banyak dampak yang ditimbulkan. Seperti tadi saat proses pengangkutan sampah dilakukan akses dari timur mau ke pasar ditutup. Terpaksa ada pedagang yang menutup lapak,” tuturnya.
Camat Kraksaan Puja Kurniawan mengatakan, ada beberapa hal yang diduga menjadi pemicu terjadinya penumpukan sampah di TPS Semampir.
Salah satunya adalah imbas dari penutupan TPS yang berada di Kelurahan Kraksaan Wetan. Sehingga banyak warga sekitar yang membuang sampah di TPS Semampir.
Tumpukan sampah tidak hanya berasal dari warga Kecamatan Kraksaan. Tetapi ada juga warga kecamatan lain yang membuang sampah di TPS Semampir.
“Kalau overload memang terlihat hampir setiap hari. Karena memang banyak yang membuang sampah di TPS Semampir,” katanya.
Sementara melubernya sampah hingga ke ruas jalan karena kurang sadarnya masyarakat saat membuang sampah ke dalam TPS.
Warga yang membawa sampah kemudian seenaknya membuang sampahnya di luar TPS. Atau sampah yang dilemparkan begitu saja tidak sampai masuk ke dalam TPS.
Akibatnya sampah tersebut menggunung sampai memakan ruas jalan. Padahal kondisi TPS masih kosong belum ditempati sampah.
“Sampah sampai ke jalan itu kurang sadarnya warga membuang sampahnya di luar TPS, tidak sampai kedalam TPS Semampir,” bebernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agus Budianto mengatakan sejatinya pengangkutan sampah telah dilakukan secara rutin.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang memang membuang sampah tidak masuk ke TPS yang telah disediakan. Tetapi melempar begitu saja di luar TPS sehingga menumpuk di jalan. Sementara di bagian dalam masih kosong atau belum terisi penuh.
Untuk mengatasi tumpukan sampah yang kerap terjadi DLH akan menempatkan dua kontainer sampah yang akan ditempatkan di sisi luar TPS baik di sisi timur dan barat. Sehingga masyarakat bisa langsung membuang sampah pada kontainer tanpa masuk ke TPS.
“Akan kami coba dengan menempatkan kontainer sampah. Mudah-mudahan bisa menjadi solusi penanganan tumpukan sampah. Kami harap masyarakat juga turut ikut menjaga lingkungan tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi pada tempat yang telah disediakan,” ucapnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid