KRAKSAAN, Radar Bromo –Tindakan asusila dua remaja SMP di GOR Sasana Krida Kraksaan, Kabupaten Probolinggo masih menjadi perhatian MUI Kabupaten Probolinggo.
Saat audiensi dengan Pemkab Probolinggo, Jumat (3/1), realitas ini disampaikan sebagai salah satu isu yang penting untuk ditindaklanjuti.
Rombongan pengurus MUI ini diterima Asisten Pemerintahan dan Kesra Bambang Heriwahjudi di ruangannya.
Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin lantas menyampaikan sejumlah isu dan agenda penting yang menjadi perhatian pihaknya.
Di antaranya, antisipasi perbuatan asusila di tempat rawan. Terutama setelah terjadi tindak asusila yang dilakukan dua remaja SMP di GOR Sasana Krida Kraksaan, beberapa waktu lalu.
MUI meminta pemkab melakukan langkah preventif. Yaitu, dengan memasang CCTV dan penerangan di lokasi-lokasi rawan yang terhubung dengan command center. Ini untuk mengatasi keterbatasan petugas di lapangan.
“Kami juga mengapresiasi langkah cepat Polres Probolinggo yang telah menemukan dua remaja pelaku tindak asusila ini dan memproses kasusnya sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Masih ada kaitannya, Yasin menyampaikan, pihaknya juga mengajukan MoU kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendukung pembinaan siswa-siswi SMP. Terutama untuk pembinaan karakter mereka.
“Ini bukan hanya soal pengamanan lokasi, tetapi juga pembinaan karakter anak-anak muda. Harapannya, MoU ini bisa segera terealisasi,” tutur Yasin.
Dalam kesempatan itu, MUI juga menyampaikan sikap masyarakat yang menolak berdirinya patung gandrung di Kecamatan Tiris.
Termasuk penyelesaian penutupan Padepokan Taat Pribadi di Gading.
Sebab, sampai saat ini masih ada ratusan orang yang tinggal di sana. Padahal, aktivitas padepokan sudah lama dihentikan.
“Ini berpotensi menimbulkan masalah sosial jika dibiarkan terlalu lama. Kami berharap penyelesaiannya melibatkan semua pihak,” tambahnya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi