Asmiyati Kurnianingsih dari tim Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo menghadirkan sebuah inovasi budi daya ikan kerapu di kolam bundar. Dia menggunakan Recirculating Aquaculture Systems (RAS) dengan air laut buatan sebagai media (Kolbun Salim).
IKAN kerapu dipilih karena punya pasar yang luas hingga mencapai ekspor. Tapi, dalam perjalanannya, tak jarang ditemui kendala seperti rentan terhadap penyakit. Tingginya angka kematian, pengelolaan perairan yang sulit, dan aspek keamanan.
“Para pembudidaya ini mengeluh dengan angka kematian yang tinggi. Sementara yang hidup hanya berkisar 20 hingga 25 persen saja. Padahal, Pulau Gili Ketapang ini adalah tumpuan Kabupaten Probolinggo terkait budi daya ikan kerapu,” tutur Asmiyati.
Asmiyati mengatakan, hal tersebut juga berkaitan dengan kondisi perairan laut yang tidak dapat dikontrol dan diprediksi.
Sehingga, hadirnya Kolbun Salim yang menggunakan kolam bundar dengan sistem RAS dengan air laut buatan sebagai media, diharapkan dapat menjadi solusi.
“Sehingga, kami berpikir untuk melakukan pembudidayaan di darat dengan bantuan air laut buatan tadi,” katanya.
“Kami lakukan trial and error pada penelitian ini hingga mendapati bahwa ada peningkatan survival rate menjadi 50 persen atau 2 hingga 3 kali lipat lebih tinggi daripada budi daya di laut,” katanya.
Asmiyati mengatakan, air laut buatannya tersebut dibuat dengan formula perbandingan yaitu 125 liter air tawar, 1 kilogram garam krosok, dan 2 liter bittern.
“Pencampurannya kami lakukan di luar kolam. Jadi bukan air dimasukkan ke kolam lalu ditaburi garam krosok dan bittern, tidak. Namun, garamnya harus diaduk di luar kolam, dilarutkan terlebih dahulu. Lalu dicampurkan. Sebab, kalau tidak dilarutkan dan hanya ditabur, garamnya tidak hancur,” tuturnya.
Sementara untuk mempertahankan kejernihan air, Asmiyati menggunakan metode RAS pada kolam budi daya.
Selain menghemat air, hal ini juga untuk membuat ikan kerapu seperti berada di habitat aslinya di dasar laut, dengan kondisi perairan yang jernih.
Konstruksi kolam bundar juga dibuat dengan model central drain, sehingga pembuangannya mengerucut ke tengah kolam. “Sehingga kotoran akan turun ke tengah semua dan RAS lebih mudah menyedot kotorannya,” tambah Asmiyati.
Selain dapat mengkontrol kualitas air dan salinitas, inovasi Kolbun Salim ini juga dapat mengontrol serangan penyakit pada ikan kerapu.
Asmiyati berharap dengan inovasinya tersebut, keberlanjutan budi daya ikan kerapu di Pulau Gili Ketapang terus terjaga. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid