DRINGU, Radar Bromo - Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo hingga kini terus memantau kondisi pasar hewan.
Sejak ada wabah penyakit yang menyerang ternak membuat geliat pasar hewan menurun.
Meski begitu, aktivitas di pasar hewan tidak perlu dibatasi. Penutupan pasar hewan dinilai belum perlu.
Staf Fungsional Penguji Mutu Barang DKUPP Kabupaten Probolinggo, Aditya Arya Guntoro mengatakan bahwa penutupan pasar hewan harus dipertimbangkan matang-matang.
Sebab jika kebijakan tersebut dilakukan, akan berdampak masif kepada masyarakat.
Khususnya masyarakat yang mengantungkan hidupnya dengan melakukan jual beli ternak di pasar hewan.
“Walaupun penyakit ternak dikeluhkan dan berdampak pada transaksi yang ada di pasar hewan, penutupan pasar belum perlu dilakukan. Sebab antisipasi penyebaran dan penanganan sudah dilakukan oleh pihak terkait,” katanya.
Pencegahan pada pasar hewan sendiri dilakukan dengan cara menyemprot cairan desinfektan pada seluruh pasar.
Mulai dari Pasar Hewan Kecamatan Banyuanyar; Pasar Hewan Kecamatan Maron; Pasar Hewan Kecamatan Leces; Pasar Hewan Muneng, Kecamatan Sumberasih; Pasar Hewan Tambak Rejo, Kecamatan Tongas; Pasar Hewan Bucor, Kecamatan Pakuniran dan Pasar Hewan Kecamatan Besuk.
Selain itu petugas juga melakukan penyemprotan desinfektan dan pemeriksaan ternak yang baru datang.
Pemeriksaan secara sampling ini dilakukan untuk memamstikan serta mengetahui sejauh mana kesehatan ternak yang masuk ke dalam pasar hewan.
“Pasar hewan memang mendapatkan dampak dari adanya wabah penyakit ternak. Tetapi tidak serta merta melakukan penutupan pasar. Banyak pertimbangan yang harus ditempuh. Sejauh ini penanganan oleh pihak terkait sudah dilakukan dengan baik,” tuturnya.
Di sisi lain, wabah hewan ternak memang masih menjadi momok bagi peternak. Seperti yang diungkapkan Zainullah, peternak asal Desa Tulupari, Kecamatan Tiris.
Dia mengatakan bahwa adanya wabah penyakit ternak membuatnya resah. Sebelumnya dia berencana menambah populasi sapi yang saat ini pada kandang miliknya.
Namun karena penyakit ternak masih merebak ia memutuskan untuk sementara waktu tidak membeli sapi.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Sebab saat wabah PMK menyerang beberapa waktu lalu, wilayah Tiris merupakan salah satu wilayah yang juga terdampak penyakit ini.
Banyak sapi mati terjangkit virus. Termasuk sapi milik saudaranya yang juga mati terserang virus tersebut.
Kondisi demikian tentunya merugikan peternak. Sebab pada prinsipnya peternak menginginkan keuntungan dari ternak sapi.
Baik dari harga sapi yang menjadi lebih mahal karena tubuh gemuk. Atau dari hasil perkembangbiakannya.
"Di desa sebelah ada beberapa ekor sapi yang mati mendadak. Sementara saat ini saya belum berani membeli sapi. Khawatir kena penyakit," katanya. (ar/fun)
Editor : Jawanto Arifin