Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pembangunan Bronjong di Tebing Sungai Dringu Belum Bisa Dilakukan Sepenuhnya, Sehingga Rawan Ambrol Saat Banjir, Ini Penyebabnya

Inneke Agustin • Selasa, 12 Maret 2024 | 15:00 WIB
ROBOH: Pagar sebuah bangunan di Kecamatan Dringu ambrol akibat terjangan banjir, Sabtu (9/3) malam.
ROBOH: Pagar sebuah bangunan di Kecamatan Dringu ambrol akibat terjangan banjir, Sabtu (9/3) malam.

DRINGU, Radar Bromo – Salah satu sebab ratusan dinding rumah ambrol saat banjir bandang di Dringu, Kabupaten Probolinggo, karena rumah itu berdiri di bantaran Sungai Kedunggaleng. 

Sementara dinding sungai Kedunggaleng tidak dibronjong seluruhnya. Sehingga, dinding itu rawan ambrol saat banjir terjadi.

Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang Pekalen, Dinas PU SDA Provinsi Jatim Anton Dharma mengatakan, dinding Sungai Kedunggaleng sebenarnya sudah dibronjong. Namun, hanya di titik-titik yang dianggap krusial. 

Baca Juga: 3.019 KK Warga Kecamatan Dringu Terdampak Banjir, 40 Orang Mengungsi

“Seperti di tikungan sungai dekat area pemakaman di Kecamatan Dringu, kami pasang bronjong di sana. Itu pun pengerjaannya bertahap selama dua tahun karena keterbatasan anggaran,” katanya.

Pada 2022, menurutnya, dibangun kaki bronjong. Lalu pada 2023 berlanjut ke bagian atas. 

Pembangunan sengaja dilakukan dua kali karena ketinggian tebing hingga dasar sungai lumayan tinggi. Sekitar 6–10 meter. 

Baca Juga: Banjir Rendam Dua Desa di Dringu, Aliran Listrik Dipadamkan, BPBD Kabupaten Probolinggo Siapkan Posko

Selain itu, pengerjaan proyek bronjong sulit dilakukan karena banyaknya rumah permanen di sekitar lokasi. 

Pengangkutan material ke lokasi yang akan dibronjong pun sulit karena akses masuk dipenuhi rumah warga.

Seharusnya, menurut Anton, ada jarak antara bibir sungai dengan bangunan permanen yang dinamakan sempadan. Ini diatur dalam Permen PUPR RI Nomor 28/PRT/M/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau.

“Area sempadan sejatinya tidak boleh dibangun bangunan permanen, sebab memang tidak aman. Apalagi untuk rumah tinggal,” katanya. 

Banyaknya bangunan permanen, kata dia, menjadi kendala pihaknya dalam melakukan penanganan. 

Sementara air sungai akan terus menggerus tebing dan semakin membahayakan rumah-rumah tersebut. 

“Maka solusi yang dapat kami lakukan saat ini yaitu membangun tanggul sementara dari sandback. Ini untuk penanganan tanggap darurat,” katanya.

Berdasarkan keterangan Kades Kedung Dalem Sumartono, selama banjir bandang di desanya, ada tiga dusun yang terdampak. Yaitu, Dusun Karang Dalem, Dusun Siwalan, dan Dusun Satrian. 

Baca Juga: Kawasan Dringu Probolinggo Kembali Direndam Banjir, Sejumlah Warga Dievakuasi

“Dari tiga dusun total ada seribu rumah terendam banjir dan 300 rumah di antaranya rusak. Mulai dari rusak ringan hingga jebol dindingnya,” jelasnya.

Salah satu rumah yang terimbas adalah milik Hendrik Suyanto, 46. Dapur rumahnya mulai retak pada pukul 20.00 dan jebol pada pukul 23.30. Atas kejadian tersebut, Hendrik mengaku menderita kerugian materil sebesar Rp 120 juta.

“Sebab ruangan tersebut sudah pernah ambruk pada 2021, lalu saya perbaiki. Bagian plengsengannya saya perkuat dengan ban truk sebanyak 500 ban,” katanya. 

Namun, ternyata rumahnya jebol lagi. Artinya, pemasangan ban truk itu kurang kuat. Sehingga, memang tebing sungai menurutnya harus dibronjong.

“Bila tidak demikian bisa-bisa selanjutnya kamar mandi saya yang longsor, sekarang saja sudah retak,” katanya.

Ia pun mengaku kecewa. Sebab, sejak tiga tahun lalu harapan warga agar tebing dibronjong ternyata tidak kunjung terealisasi. 

“Dari dulu minta dibronjong, tidak dibronjong. Hanya diukur, tapi ternyata realisasinya cuma sedikit, tak sampai ke rumah saya. Kecewa sekali tentunya,” kata Hendrik. (gus/hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#banjir #bandang #banjir dringu