KRAKSAAN, Radar Bromo - Sepanjang 2023, Pemkab Probolinggo berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem. Namun, memasuki 2024, warga yang tergolong dalam kemiskinan ekstrem bertambah 6.500 orang.
Tambahan ini terungkap berdasarkan data Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Pemkab pun melakukan verifikasi faktual terhadapnya adanya data soal komiskinan ekstrem ini.
Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Aat Kardono mengatakan, bertambahnya jumlah warga yang tergolong dalam kemiskinan ekstrem ini disebabkan adanya aplikasi “Cek Bansos” yang dikeluarkan Kemensos RI.
Menurutnya, melalui aplikasi ini, memungkinkan setiap warga untuk mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan sosial. Termasuk yang miskin ekstrem.
“Kami sangat bersemangat untuk melawan kemiskinan, tetapi di sisi lain, Kemensos menyediakan Cek Bansos. Dengan begitu, masyarakat bisa secara mandiri mendaftarkan diri sebagai penerima bansos (bantuan sosial),” ujarnya, Kamis (18/1).
Akibat aplikasi itu, kata Aat, sekitar 6.500 warga Kabupaten Probolinggo mengajukan diri sebagai penerima bansos.
Di sisi lain, pada akhir 2023, jumlah penduduk miskin ekstrem Kabupaten Probolinggo sudah berkurang menjadi sekitar 35 ribu jiwa. Pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, jumlahnya sekitar 37 ribu jiwa.
“Karena mereka mengajukan diri secara mandiri sebagai penerima bansos, Kemensos kemudian meneruskan ke kami untuk melakukan verfal (verifikasi faktual),” katanya.
Ia mengaku juga sudah menyampaikan permasalahan ini ke pemerintah kecamatan untuk dilakukan verifikasi. Namun, waktu verifikasi hanya diberikan sampai 20 Januari.
“Jika tidak ada laporan dari verifikasi ini ke Kemensos sampai 20 Januari, maka Kemensos akan menganggap tambahan 6.500 penerima bansos ini adalah valid,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang berbeda, Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, perihal kemiskinan ekstrem tahun ini, pihaknya telah menyiapkan tiga program unggulan. Semuanya masuk inovasi pemerintah tahun ini.
Di antaranya, penghapusan kemiskinan ekstrem melalui inovasi Gerakan Serentak Eselon Peduli Kemiskinan Ekstrem (Gesek Ekstrem), percepatan penurunan stunting melalui Gerakan Bersama PNS Asuh Risiko Stunting (Gema Paris), dan gerakan inovasi daerah melalui inovasi Probolinggo Bersinergi Ciptakan Inovasi (Pro-Beraksi).
“Data BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2021, kemeskinan ekstrem pada 2021 sebanyak 51 ribu. Kemudian pada 2022 turun menjadi 37 ribu. Untuk 2023, belum ada rilis resmi dari BPS, hanya saja prediksinya akan menjadi 19 ribu. Pada 2024 harapannya sudah zero kemiskinan ekstrem,” katanya. (mu/rud)
Editor : Fahreza Nuraga