PAJARAKAN, Radar Bromo - Masih tingginya angka kecelakan lalu lintas menjadi atensi Satlantas Polres Probolinggo. Sampai dengan pekan kedua bulan September, terdapat 511 insiden kecelakaan. Dimana 55 orang korban jiwa diantaranya meninggal dunia.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Probolinggo Ipda Aditya Wikrama mengatakan, tingginya angka kecelakaan perlu ditekan seminimal mungkin. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk disiplin dalam berlalu lintas. Hal ini tidak hanya dilakukan dengan upaya penegakan hukum. Tetapi juga dengan sosialisasi kepada masyarakat.
"Kecelakaan masih cukup tinggi. Perlu ada upaya nyata agar kesadaran dan kedisiplinan dalam berlalu lintas semakin baik," katanya.
Dalam kurun waktu Januari hingga pekan kedua bulan September, terdapat 511 insiden kecelakaan. Tercatat sebanyak 55 orang korban jiwa di antaranya meninggal dunia. Dari ratusan insiden kecelakaan yang telah terjadi mayoritas merupakan motor. Kemudian sisanya merupakan kendaraan roda empat. Baik mobil pribadi, pickup, maupun truk.
Penyebab kecelakaan karena ketidakpatuhan pengendara pada rambu. Kurang memahami tata cara berkendara. Seperti pengemudi yang mengantuk saat berkendara, pengemudi tertidur hingga lepas kendali dan menabrak benda yang ada di depannya.
"Titik terbanyak insiden kecelakan masih di jalur Pantura mulai ruas jalan Kecamatan Dringu hingga Paiton. Ada juga di ruas jalan lingkar selatan dan dataran tinggi tapi tidak banyak. Penyebab kecelakaan mayoritas human error dan kealpaan," terangnya.
Kasat Lantas Polres Probolinggo AKP M. Sapari menjelaskan, di bulan September ini terdapat 24 kasus kecelakaan. Dengan kecelakaan menonjol yakni laka lantas mobil Hardtop di Bromo dengan korban meninggal dunia berjumlah satu orang. Kendaraan jenis ini merupakan angkutan kepariwisataan yang ada di Bromo. Sehingga wajib aman dan tertib dalam berlalu lintas.
Karenanya Satlantas gencar melakukan sosialisasi dan edukasi untuk menekan angka kecelakan lalu lintas. Selain itu saat mengetahui terjadi kecelakan segera mendatangi TKP. Tindakan ini sebagai upaya percepatan penanganan sekaligus evakuasi korban. Agar dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
"September ada kasus kecelakaan menonjol. Itu terjadi saat operasi Zebra. Jumlah laka lantas pada Operasi Zebra mengalami penurunan daripada tahun 2022. Sebelumnya kasus kecelakaan yang terjadi pada 2022 sebanyak 29 kasus, sedangkan pada tahun 2023 terdapat 24 kasus kecelakaan," imbuhnya. (ar/fun)
Editor : Ronald Fernando