Abdullah, 34, warga sekitar saat ditemui di lokasi jalan terputus akibat longsor menerangkan, jika bukit kembang sebelumnya sudah diresmikan. Bahkan menjadi kawasan wisata dan masuk kawasan stategis pariwisata nasional (KSPN) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Tetapi tempat wisata ini masih perlu berjuang. Lebih lagi, selain aksesnya terbilang sulit. Butuh alokasi yang cukup besar untuk membangun jalan. Alhasil hingga kini kondisinya masih tampak sepi.
Padahal destinasi ini banyak menawarkan spot. “Dari Bukit Kembang ini akan tampak menara PLTU, Kota Probolinggo. Tiga gunung yakni Bromo, Batok dan Semeru. Bahkan pada saat malam hari jembatan Suramadu juga tampak lampu atau cahayanya,” terangnya.
Saat ini lokasi tersebut sangat jarang dikunjungi. Beberapa yang datang hanya segelintir saja. Itupun masuknya lewat Penanjakan Pasuruan. “Jarang Mas. Apalagi yang lewat sini. Sebab memang jalannya cukup sulit. Jika lewat Penanjakan yang di Pasuruan sama sulitnya sih, namun kan rutenya lebih pendek,” lanjutnya.
Hal senada juga diungkapkan Muhammad Mustajab. Pria 50 tahun yang berdomisili di Dusun Puncaksari menerangkan, saat dibuka sekitar tahun 2015, perorang membayar Rp 15 ribu untuk masuk. Namun seiring berjalanya waktu, mulai sepi pengunjung. Ditambah terkena pandemi.
Saat ini pengunjung tidak berbayar lagi. “Untuk kondisi bunganya sebagian masih bagus. Sebagian lagi kurang terawat,” tandasnya. (rpd/fun) Editor : Ronald Fernando