Inilah yang mendasari Komunitas Negeri Dolanan Anak Desa (Ndonesa) di Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan, menggelar peragaan permainan tradisional. Sabtu (23/7) lalu, puluhan anak di desa tersebut begitu antusias mengikuti.
Inisiator komunitas Ndonesa, Khoirul Umam mengatakan, adanya peragaan dan proses bermain permainan tradisional tersebut guna mengurangi kecenderungan dan ketergantungan. Terutama untuk anak-anak terhadap efek gadget yang cukup banyak diresahkan pada orang tua.
"Kecenderungan dan ketergantungan terhadap gadget ini sangat berdampak negatif bagi sosial komunikasi anak-anak. Tak lupa juga mentalnya. Sehingga agar anak-anak peduli pada lingkungan sosial sekitar, maka sejak dini harus kita tanamkan, rasa kebersamaan kepedulian dan sebagainya melalui permainan tradisional ini," ujarnya, Minggu (24/7).
Aneka permainan tradisional yang diperagakan oleh anak-anak usia 7-11 tahun itu juga dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional, yang jatuh tiap tanggal 23 Juli. Agar lebih semarak, komunitas Ndonesa juga melibatkan beberapa lembaga pendidikan tingkat dasar di wilayah setempat sebagai peserta.
"Tujuan kami juga untuk mempertemukan anak-anak, sehingga bisa berkumpul dan tidak canggung untuk bersosial. Sejumlah lembaga pendidikan juga kami libatkan. Seperti SD Dan MI,"ujarnya.
Dalam kesempatan itu, juga ada suntikan motivasi terhadap anak-anak, untuk menambah kecintaan mereka terhadap dolanan (permainan) tradisional. Pemahaman tentang ragam permainan, makna dan cara bermain juga diberikan.
“Contohnya seperti hompimpa ala ihom gambreng. Mereka pastinya tidak mengerti apa artinya meski sering diucapkan. Kami beri pemahaman bahwa itu artinya dari tuhan kembali ke tuhan ayo kita bermain. Itu berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti positif,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Gugus Tugas Desa Layak Anak (GTDLA) Desa Jatiurip Mohamad Najib Efendi. Dia mengatakan, kegiatan tersebut efektif untuk mengurangi candu gadget. Selain itu, penempaan terhadap permainan tradisional dapat meningkatkan kreatifitas anak.
"Gadget untuk anak itu sangat tidak baik karena masa anak-anak bukan waktunya untuk menikmati gadget. Alhamdulillah, 100 lebih anak, perwakilan dari bebebrapa lembaga desa yang hadir antusias,” ujarnya. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin