Sejumlah petani tembakau semula memprediksi, hujan sudah tidak akan kembali turun pada Juli ini. Alhasil sebagian petani ada yang langsung menanam. Nyatanya, memasuki Juli, hujan masih sering turun. Nah, petani tembakau harus mewaspadai penyakit ini.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo, Mudzakir mengatakan, ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan saat hendak penanaman tembakau. Mulai dari pemilihan bibit, perawatan tanaman, hingga meengntrol saluran air. Hal tersebut baik dilakukan guna mencegah terserangnya penyakit yang menyebabkan gagal panen.
Saat terjadi hujan yang tak menentu, penting bagi para petani agar lebih selektif dalam memilih bibit tanamannya. “Untuk daun keriting pada tanaman tembakau itu disebabkan oleh pemilihan bibit yang kurang selektif. Biasanya bibit yang dipilih memang tidak bagus. Sehingga saat daun mulai tumbuh menjadi keriting penyebabnya biasanya karena bibit tidak steril lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, pemilihan bibit sejatinya bisa dilakukan oleh petani. Dimulai dari menyiapkan bibit saat masih menjadi benih bunga. “Bisa memakai metode gerondongan (ditutup, Red) untuk upaya menciptakan bibit tembakau yang bagus. Sebab pada metode ini, benih yang sejak bunga sudah dititupi. Sehingga hewan atau serangga pembawa bakteri tidak dapat hinggap,” ujarnya.
Sementara untuk mengntrol saluran air, gunanya untuk menjaga kadar air pada tanaman tembakau. Sebab apabila taman tembakau mendapatkan kelebihan air, maka pertumbuhannya tidak akan maksimal.
Hujan juga menyebabkan tanaman tembakau rentan terhadap serangan ulat. Untuk penanganan ulat yang biasanya menyerang lahan tembakau, diungkap Mudzakir, dapat dilakukan dengan penyemprotan obat hama ulat. “Ada yang menggunakan manual, juga ada yang menggunakan penyemprotan,” ujarnya. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin