Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Majlis Ta’lim wal Maulid Raudhotul Ulum asal Genggong

Jawanto Arifin • Rabu, 8 Mei 2019 | 16:30 WIB
Photo
Photo
Bagi masyarakat Probolinggo, Majlis Ta’lim wal Maulid Raudhotul Ulum (Majlis Tamru), mungkin sudah tidak asing. Majlis yang bermarkas di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, ini berdakwah dengan memadukan pengajian kitab dan salawatan dengan kesenian.

--------------------

Ratusan jamaah memenuhi halaman MI Kholafiyah Syafiiyah, Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Kamis (4/4) malam, meski diguyur hujan deras, mereka tidak goyah. Tetap khusuk mengikuti alunan salawat yang dipandu Khodimul Majlis Tamru K.H. Moh. Hasan Naufal.

Ratusan jamaah itu basah kuyup. Maklum, panitia pengajian rutin setiap Kamis malam (malam Jumat Kliwon) itu, tak menyediakan tenda. Mereka hanya menyiapkan terpal sebagai alas duduk. Di bagian atas, langsung beratap langit. Tak ayal, ketika hujan, jamaahnya kehujanan.

Namun, kondisi ini tak membuat para jamaah beranjak. Mereka tetap khidmat mengikuti pengajian sampai usai. Bahkan, Nun Boy -sapaan akrab K.H. Moh. Hasan Naufal- juga turun dari panggung. Ulama muda ini berbaur dengan jamaah yang kehujanan.

Mendapati itu, sejumlah jamaah yang semula berusaha berlindung di bawah atap teras madrasah, juga merangsek berebut terkena hujan. Dengan salawat terus menggema, mereka tidak lagi memikirkan pakaiannya kuyup. Mereka tetap antusias mengikuti salawatan yang disambung dengan ceramah agama dan pengajian kitab. Pemandangan ini sering ditemui ketika Majlis Tamru sedang manggung.

Melantunkan salawat dengan iringan tabuhan hadrah, banyak dilakukan beragam kalangan. Begitu juga dakwah dengan cara berpidato yang fokus menyampaikan materi banyak dilakukan dai. Pun begitu dengan pengajian kitab-kitab salaf dengan cara duduk khusyuk di masjid atau musala.

Berbeda dengan Majlis Tamru. Majlis asuhan Nun Boy ini memadukan pembacaan salawat, ceramah, dan ngaji kitab dengan kesenian. Karenanya, jamaahnya juga mencakup berbagai kalangan. Tak hanya para sepuh yang biasanya bayak mengikuti pengajian, anak muda juga tumplek blek.

Majlis ini sejatinya sudah berdiri sejak 2007. Bermula dari adanya permintaan pengajian dari sejumlah warga hingga kemudian menjadi pengajian rutinan. Sejauh ini, ada tujuh koordinator daerah (korda) di Kabupaten dan Kota Probolinggo, yang istiqamah menggelar pengajian saban Kamis malam atau malam Jumat.

Serta, dua korda istimewa. Masing-masing di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo dan di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Disebut istimewa, karena mereka tidak istiqamah menggelar saban Kamis malam. Melainkan dibarengkan dengan kegiatan rutin Ikatan Santri dan Alumni Pesantren Zainul Hasan (Tanaszah).

Nun Boy mengatakan, seperti halnya majlis lain yang ada di Probolinggo, majlis ini juga mengolaborasikan antara dakwah dengan kesenian. Menurutnya, berdakwah dengan metode ini dipandang lebih mengena kepada masyarakat. “Memang berbeda. Antara dakwah dengan hanya pidato dengan ditambahi kesenian di dalamnya, itu berbeda. Apalagi, juga ada ngaji kitabnya, pasti tambah berbeda,” ujarnya.

Perbedaan yang paling mencolok adanya pengajian kitab-kitab salaf. Dengan adanya pengajian kitab, jauh lebih mengena lagi. Jamaah yang hadir ke Majlis Ta'lim akan turut mencatat, bahkan juga membeli kitab. “Ada dua kitab yang kami baca saat majlis. Safinatun Najah dan Bidayatul Hidayah. Dua kitab ini kami baca dalam setiap majlis,” ujarnya.

Dengan adanya majlis dakwah yang mengolaborasikan dengan kesenian, juga banyak bermunculan komunitas pemuda pecintah salawat. Sebelumnya ini tidak pernah ada. Menurut Nun Boy, ini membuktikan dakwah disertai kesenian memang mudah masuk kepada masyarakat. Terutama, kepada kaum muda. “Alhamdulillah, dampaknya sangat luar biasa. Bahkan, di beberapa kampung sudah ada komunitas-komutasi pecinta salawat,” ujarnya.

Nun Boy mengatakan, dakwah dengan dibarengi kesenian sudah sejak penyebaran Islam di tanah Jawa semasa Wali Songo. Mereka tidak membuang kesenian nusantara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. “Tidak lepas dengan sejarah sebenarnya. Datangnya Islam ke bumi nusantara juga dengan budaya dan kesenian. Ini memang yang pas untuk berdakwah,” ujarnya.

Meski berdiri sejak 2007, namun majlis ini baru memakai bendera Majlis Tamru sejak 2017. Nun Boy mengatakan, nama Tamru sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya kurma. Berbekal filosofi kurma, nama itu diambil menjadi nama Majlis Tamru.

“Kurma itu bisa diterima seluruh kalangan. Baik yang kena diabetes atau yang lainnya. Karena kami tidak memihak golongan, karena itu kami ambil nama Tamru. Nama itu baru muncul pada 2017 saat saya umrah,” ujarnya.

Sejauh ini, majlis rutinan Tamru baru mengitari Kabupaten dan Kota Probolinggo serta Kabupaten Situbondo. Itu, khusus yang rutinan dan dalam kegiatannya dilengkapi dengan pembacaan kitab. Nun Boy mengaku, sementara ini fokus di Kabupaten Probolinggo. Meski banyak diundang di berbagai daerah, pihaknya masih enggan.

Alasannya, Majlis Tamru ketika sudah di daerah tujuan harus menghatamkan kitab. “Sekali kami bermajlis harus khatam, meski tempatnya berbeda-beda. Tapi, harus mecakup satu desa. Karena itu, kami masih fokus di Kabupaten Probolinggo,” ujarnya. (sid/rud) Editor : Jawanto Arifin
#zaha genggong #ponpes zainul hasan genggong #seni islam #majlis ta’lim wal maulid raudhotul ulum