Mereka tak mau keberadaan warung itu membuat prostitusi di wilayah mereka yang sudah ditutup, kembali muncul. Pasalnya, lokasi warung itu hanya dipisah dengan jembatan Rondoningo Kraksaan.
Selain itu, warung yang masuk wilayah Kelurahan Semampir itu jauh dari permukiman warga. “Sekarang lingkungan kami sudah bebas prostitusi, tapi sisi selatan jembatan kenapa tidak ditutup juga,” kata Ketua RT 5 Blok Sampitan Sumardi.
Senin (8/10), Jawa Pos Radar Bromo mencoba menelusuri keberadaan warung-warung yang disinyalir menjadi tempat esek-esek tersebut. Tampak, beberapa warung di sisi barat sungai itu tutup semua.
Informasi yang diterima, warung-warung itu baru buka malam hari. “Kalau saya tidak menyediakan itu, murni jualan. Tapi, memang ada warung dengan perempuan pekerja gituan (PSK, Red). Kalau siang begini biasanya di Pasir Panjang (Paiton), pas malam saja buka di sini,” kata salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi mengatakan, warung itu sebenarnya satu paket dengan sisi utara atau Blok Sampitan, Desa Asembagus. Namun, saat itu yang menjadi fokus penutupan adalah sisi utara jembatan yaitu Blok Sampitan.
“Sebenarnya, awalnya ada rencana satu paket untuk menutup sekaligus sisi utara ataupun selatan jembatan. Tapi, yang jadi perhatian masyarakat utamanya di sisi utara. Jadi, fokus ke Blok Sampitan,” katanya.
Meski demikian, Joko –sapaan akrabnya– menegaskan, pihaknya tetap akan menindaklanjuti keresahan warga. Rencananya, pihaknya akan kembali turun melakukan penutupan tempat lokalisasi tersebut. (mas/rf/mie) Editor : Jawanto Arifin