Oleh: M Zubaidillah, Fotografer Jawa Pos Radar Bromo
SALAH satu cabang ilmu fotografi adalah fotografi panggung. Biasanya dikenal dengan sebutan stage photography atau concert photography. Fotografi panggung merupakan kegiatan fotografi yang merekam segala aktivitas pertunjukan panggung. Misalnya, konser musik, pergelaran seni tari, teaterikal, peragaan busana, sulap, dan sejumlah jenis pertunjukan panggung lain.
Pertunjukan panggung umumnya digelar pada malam hari. Tak jarang juga dihelat di dalam ruang tertutup (indoor), seperti di dalam gedung. Oleh sebab itu, fotografi panggung ini dikategorikan sebagai fotografi minim cahaya atau lowlight photography. Karena ya memang dilakukan di tempat yang minim cahaya.
Berdasar segi kebutuhannya, para pakar fotografi mengelompokkan fotografi panggung menjadi dua jenis. Yakni, fotografi dokumentasi dan peliputan. Foto dokumetasi biasanya dilakukan oleh fotografer dari penyelenggara acara. Bisa juga dari manajemen artis. Sering pula gabungan satu tim dokumentasi sendiri. Adapun foto peliputan diperlukan oleh media massa untuk kebutuhan berita. Contohnya, liputan untuk pemberitaan tentang kesenian maupun kebudayaan.
Seiring perkembangannya, peminat fotografi panggung ternyata semakin banyak. Tidak hanya kalangan profesional, seperti para fotografer komersial dan jurnalis, tapi juga masyarakat umum. Terutama mereka yang lagi hobi dan sedang belajar mendalami fotografi. Media kamera yang dipakai pun beragam. Mulai kamera digital menengah-profesional; DSLR-mirrorless, hingga kamera canggih nan praktis, seperti smartphone.
Seperti yang saya ungkapkan tadi, fotografi panggung merupakan fotografi dengan ciri khas tersendiri. Kegiatan memotretnya banyak dilakukan malam hari. Faktor gelapnya malam sedikit banyak pasti akan berpengaruh. Jadi, fotografer dituntut untuk mampu mengenal sekaligus menguasai teknik lowlight photography.
Memang, di setiap pertunjukan panggung, ada tata cahaya yang telah diatur. Namun, itu tidak otomatis membuat fotografer akan mudah mendapatan hasil yang maksimal. Yah, gampang-gampang susahlah. Oleh karena itu, dibutuhkan bekal yang cukup agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Fotografer panggung harus pandai-pandai menyiasati bagaimana mengemas aneka cahaya tersebut menjadi sebuah karya foto yang menarik. Tak cukup piawai menyiasati saja, fotografer panggung juga harus siap dan sigap. Peka terhadap gerakan objek, ragam lighting, juga terhadap perubahan tata cahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu secara cepat.
Jadi, persiapan matang tentunya sangat dibutuhkan. Alangkah lebih bagus lagi jika fotografer lebih dulu mengetahui tema, susunan acara, kondisi panggung, dan siapa saja para artis yang bakal tampil. Tentu itu akan lebih memudahkan fotografer untuk mengeksplor dan memperoleh hasil foto yang bagus, menarik, sekaligus artistik. (bersambung) Editor : Jawanto Arifin