TIKUS selama ini lebih sering dikaitkan dengan penyakit leptospirosis. Padahal, hewan pengerat tersebut juga dapat menjadi sumber penularan hantavirus, penyakit yang berpotensi menyerang paru-paru maupun ginjal dan dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani.
Dokter Rutan Kelas IIB Bangil, dr. Ervinda, menjelaskan bahwa hantavirus tidak menular melalui gigitan tikus semata. Risiko justru muncul ketika seseorang menghirup partikel halus yang berasal dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang telah mengering. Saat kotoran tersebut tersapu atau beterbangan menjadi debu, virus dapat masuk ke saluran pernapasan.
“Paparan urine, kotoran, maupun air liur tikus yang terhirup menjadi salah satu jalur penularan. Karena itu, kebersihan lingkungan menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya.
Gejala awal hantavirus kerap menyerupai influenza. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga mual dan muntah. Kondisi tersebut membuat banyak orang terlambat menyadari infeksi karena menganggapnya sebagai penyakit musiman.
Pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat. Penderita mulai merasakan sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera karena dapat berkembang dengan cepat.
Kelompok yang paling berisiko ialah mereka yang sering beraktivitas di tempat yang menjadi habitat tikus, seperti gudang, lumbung padi, kandang ternak, bangunan kosong, hingga area penyimpanan barang yang jarang dibersihkan. Pekerja pertanian, petugas kebersihan, maupun masyarakat yang membersihkan rumah setelah lama ditinggalkan juga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Meski demikian, hantavirus tergolong dapat dicegah. Langkah paling sederhana adalah mengurangi populasi tikus di lingkungan sekitar serta menjaga kebersihan rumah. Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, masyarakat dianjurkan tidak langsung menyapu dalam kondisi kering karena dapat menerbangkan debu. Area tersebut sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan.
Menurut dr. Ervinda, penerapan pola hidup bersih dan sehat menjadi benteng utama untuk menekan risiko penularan. Semakin bersih lingkungan, semakin kecil peluang virus berkembang dan menginfeksi manusia.
Rumah Bersih Jadi Benteng Pertama
MENCEGAH hantavirus tidak bergantung pada obat atau vaksin, melainkan dimulai dari kebiasaan sederhana menjaga kebersihan lingkungan. Pengendalian populasi tikus menjadi langkah paling efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut.
Dokter Rutan Kelas IIB Bangil, dr. Ervinda, mengatakan banyak masyarakat belum memahami bahwa virus dapat bertahan pada kotoran maupun urine tikus yang mengering. Saat area tersebut dibersihkan tanpa prosedur yang benar, partikel virus dapat beterbangan bersama debu dan terhirup manusia.
“Menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan langkah utama untuk mencegah penyebaran hantavirus,” katanya.
Karena itu, rumah, tempat kerja, maupun lingkungan sekitar perlu dijaga agar tidak menjadi habitat tikus. Sisa makanan sebaiknya tidak dibiarkan terbuka, sampah harus segera dibuang, dan saluran air dijaga tetap bersih agar tidak menarik kedatangan hewan pengerat.
Masyarakat juga dianjurkan rutin memeriksa sudut-sudut rumah yang jarang digunakan, seperti gudang, plafon, atau ruang penyimpanan. Keberadaan kotoran tikus, bekas gigitan, maupun sarang menjadi tanda bahwa pengendalian harus segera dilakukan.
Saat menemukan kotoran tikus, cara membersihkannya juga tidak boleh sembarangan. Hindari menyapu atau menggunakan penyedot debu dalam kondisi kering. Cara tersebut justru berisiko menyebarkan partikel virus ke udara. Area sebaiknya disemprot cairan disinfektan atau air sabun terlebih dahulu, kemudian dibersihkan menggunakan sarung tangan dan dibuang ke tempat sampah tertutup.
“Pencegahan juga perlu diterapkan di lingkungan dengan kepadatan penghuni tinggi, termasuk asrama, pondok pesantren, rumah tahanan, maupun permukiman padat,” bebernya.
Kebersihan ruang bersama, pengelolaan sampah, dan pemeriksaan rutin terhadap keberadaan tikus menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan bersama.
“Hantavirus memang bukan penyakit yang sering ditemukan, tetapi risikonya tetap ada selama populasi tikus tidak terkendali,” katanya.
Karena itu, menjaga rumah tetap bersih bukan sekadar membuat lingkungan nyaman, melainkan juga menjadi investasi kesehatan untuk melindungi seluruh anggota keluarga dari penyakit yang sering luput dari perhatian. (tom/fun)
INFOGRAFIS
Bagaimana Penularannya?
Virus berasal dari:
- Urine tikus
- Kotoran tikus
- Air liur tikus
Gejala Awal
· Demam tinggi
· Nyeri otot
· Sakit kepala
· Tubuh lemas
· Mual dan muntah
Bila Memburuk
· Sesak napas
· Batuk
· Penumpukan cairan di paru-paru
· Gangguan ginjal (pada beberapa jenis hantavirus)
Cara Mencegah
· Simpan makanan dalam wadah tertutup
· Buang sampah setiap hari
· Tutup lubang masuk tikus
· Bersihkan gudang secara rutin
· Gunakan sarung tangan saat membersihkan kotoran tikus
· Basahi kotoran dengan disinfektan sebelum dibersihkan
· Jangan menyapu kotoran tikus yang kering karena dapat menerbangkan virus ke udara.
Fakta Penting
Hantavirus tidak menular lewat udara bebas.
Penularan terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang berasal dari urine atau kotoran tikus yang mengering.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksa apabila mengalami:
- Demam setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus
- Sesak napas
- Nyeri otot berat
- Kondisi memburuk dalam beberapa hari