Rumah Sakit Dharma Husada (RSDH) Kota Probolinggo terus berbenah. Sejak resmi diakuisisi oleh PT Disa Prima Medika, tonggak perjalanan baru RSDH dimulai. Salah satunya, IGD One-Stop Service. Sebuah pelayanan yang membuat keluarga pasien merasa nyaman sejak menit pertama di rumah sakit.
===============================
DI bawah PT Disa Prima Medika, RSDH terus berbenah. Bertahap pembangunan dilakukan sana-sini dibarengi pembenahan-pembenahan intern manajemen rumah sakit.
Di bawah perusahaan bidang kesehatan milik pasangan suami-istri, dr. Sadi Hariono dan Endang Sadi, ini layanan kesehatan prima yang dilakukan RSDH kini mulai mendapat tempat di hati masyarakat.
Direktur RSDH dr. Ifit Bagus Apriyantono, M.MRS. mengatakan, meningkatnya kunjungan pasien rawat jalan, persentase Bed Occupancy Rate (BOR) yang berbanding lurus dengan jumlah pasien rawat inap menggambarkan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan di RSDH.
“Juli tahun lalu BOR RSDH hanya 4,6 persen. Namun belum sampai satu tahun, tepatnya bulan Mei kemarin, jumlahnya meningkat menjadi 55,5 persen. Sementara, standar BOR normal berkisar antara 60-85 persen,” ujarnya.
Menurutnya, tahun ini merupakan momentum penting bagi kami untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Selain terus menambah sarana prasarana kesehatan agar semakin lengkap, pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai investasi penting untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik.
Salah satu dari tiga rumah sakit yang dikelola Prima Husada Group, RSDH berada di pusat kota. Aksesnya sangat strategis dan mudah dijangkau. Kondisi ini menjadi point plus bagi RSDH. Terlebih, RSDH telah terverifikasi sebagai Rumah Sakit Umum C berdasarkan data RS Online Kemenkes RI.
Tak hanya itu, fasilitas layanan rawat inap yang nyaman juga sesuai standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Konsep ini dirancang untuk mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien berdasarkan ketentuan Kementerian Kesehatan RI.
Bicara tentang fasilitas, dr. Ifit mengatakan, RSDH memiliki sejumlah fasilitas penunjang medis komprehensif. Di antaranya, ada CT-Scan 64 slice, USG, mesin X-Ray konvensional terbaru, hingga fasilitas diagnostik laboratorium dan farmasi yang siaga 24 jam.
“Untuk menghadirkan standar kenyamanan serta fasilitas modern yang terintegrasi penuh demi keselamatan pasien, kami memindah Instalasi Gawat Darurat (IGD) ke gedung baru yang lebih luas dan nyaman. Yang semula di pintu utama Jalan Soekarno Hatta, kini pintu utama dialihkan ke Jalan DI. Panjaitan,” ujarnya.
Konsepnya, IGD One-Stop Service. Seluruh alur layanan mulai dari triase, pendaftaran, tindakan, laboratorium, hingga layanan administrasi berada di zona yang berdekatan. Dengan harapan penanganan kegawatdaruratan bisa dilakukan lebih cepat, efektif, dan berfokus pada keselamatan pasien dalam satu atap. “Kami ingin memberikan ketenangan maksimal bagi keluarga pasien sejak menit pertama mereka tiba di RSDH,” jujar dr. Ifit.
RSDH juga dilengkapi beragam layanan poli spesialis. Di antaranya, Poli Spesialis Penyakit Dalam, Obgyn (Kandungan dan Kebidanan), Anak, Syaraf, Bedah, Orthopedi (Tulang), Mata, Urologi, Kulit dan Kelamin, hingga Gigi. Ada pula Poli Umum dan Medical Check Up (MCU) sampai Fisioterapi.
Diketahui, Kementerian Kesehatan RI mengubah paradigma klasifikasi rumah sakit secara fundamental. Sesuai PMK Nomor 40/2022, kini klasifikasi rumah sakit tidak lagi pada kelas administratif konfensional (tipe A/B/C/D). Namun beralih ke klasifikasi layanan berbasis kompetensi layanan yang dimiliki rumah sakit.
Penilaiannya, berdasarkan pada kemampuan riil rumah sakit yang bersangkutan, dimana secara perizinan wajib memenuhi standar sarana-prasarana, kelengkapan alat kesehatan, serta kesiapan SDM Kesehatan.
Kemenkes RI juga telah mengkategorikan kemampuan layanan rumah sakit kedalam empat jenjang, yaitu Paripurna, Utama, Madya dan Dasar. Implikasinya, rumah sakit harus bergerak cepat untuk mengaudit kepatuhan terhadap PMK Nomor 6/2026.
Langkah ini meliputi pembaharuan hospital bylaws dan kredensial klinis, serta memastikan kesiapan operasional penuh pada lini krusial. Seperti, IGD, ICU, ruang isolasi dan sistem rujukan.
Tak kalah penting, manajemen wajib memperkuat mutu keselamatan pasien dan manajemen resiko, yang ditopang oleh pembenahan sistem pelaporan internal-eksternal serta penguatan perlindungan hukum bagi seluruh petugas rumah sakit.
“Visi kami adalah menjadi rumah sakit berkualitas prima pilihan seluruh lapisan masyarakat. Berlandaskan keunggulan pelayanan disemua aspek, kami berkomitmen untuk terus mendiversifikasi layanan spesialis, mempercepat digitalisasi sistem guna memangkas antrean agar lebih efisien, dan memperkuat tata kelola mutu dan keselamatan pasien sesuai standar. Melalui langkah strategis ini, kami memastikan setiap pasien pulang dengan rasa puas dan optimisme akan kesembuhan,” ujarnya lagi.
Karena itu, sebagai management RSDH, pihaknya mengaku tidak boleh alergi terhadap masukan atau kritik dari lini manapun. Mulai dari portal Whatsapp, media sosial, hingga yang disampaikan secara langsung. Respons cepat, salah satunya melalui Google View sangat diperlukan. “Sebab, identitas dan citra yang dibangun bisa menarik kepercayaan dan loyalitas pasien,” katanya.
Lompatan besar sekaligus semangat baru transformasi layanan prima RSDH ini, mampu mengantarkan RSDH sebagai penerima Radar Bromo Award 2026 kategori Kesehatan.
“Penghargaan ini adalah bahan bakar bagi kami untuk terus berinovasi dan membuktikan bahwa kualitas layanan kesehatan di daerah tidak kalah bersaing dengan kota-kota besar. Prestasi ini berhasil kita raih karena kami senantiasa memegang teguh motto ‘Sahabat Menuju Sehat’, dengan berlandaskan pada tujuh Nilai Budi Utama dalam setiap pelayanan, yaitu jujur, tanggung Jawab, disiplin, visioner, kerjasama, adil, dan peduli,” ujar dr. Ifit. (el/rud/*)
Editor : Muhammad Fahmi