NGULING, Radar Bromo - Guna mengoptimalkan pelayanan kesehatan sekolah yang sempat tersendat selama masa pandemi Covid-19, Puskesmas Nguling meluncurkan sebuah program terobosan bernama Inovasi SI PITUNG (SInergi Program Intensif Terpadu UKS Nguling).
Langkah strategis ini diambil, untuk menyentuh 50 lembaga pendidikan dan 3 pondok pesantren di wilayah Nguling yang sebelumnya belum memiliki Tim UKS tetap.
Hadirnya SI PITUNG menjadi jawaban atas berbagai kendala operasional UKS di lapangan.
Mulai dari pemeriksaan kesehatan awal (skrining) siswa baru, hingga program pembinaan kader.
Melalui inovasi ini, seluruh kegiatan pembinaan bagi Guru Pembina UKS, Kader Tiwisada (tingkat SD/MI), hingga Kader Kesehatan Remaja (tingkat SMP/SMA) kini dialihkan menggunakan sistem kombinasi daring dan luring (hybrid).
Salah satu fokus utama dari inovasi ini, adalah penanganan masalah anemia pada remaja putri melalui pemanfaatan teknologi digital.
Tim UKS meluncurkan tautan khusus bernama REPUSCTA (REmaja PUtri Sehat Cerdas Tanpa Anemia).
Melalui sistem online ini, Guru Pembina dan Kader Kesehatan Remaja, dapat memonitor kedisiplinan siswi dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), setiap satu minggu sekali.
Pengawasan digital ini, kemudian diperkuat dengan tindakan medis luring berupa pemeriksaan kadar Hemoglobin (HB) secara berkala di sekolah, untuk mendeteksi dan mencegah kasus anemia berat sejak dini.
“Selain memantau kesehatan fisik, inovasi SI PITUNG juga menargetkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan sekolah, dengan target pemenuhan kuota minimal 10 persen kader kesehatan di setiap Lembaga,” kata Plt Kepala Puskesmas Nguling dr. Nis Cahyono.
Para Kader Tiwisada dan Kader Kesehatan Remaja ini, dilatih agar memiliki keterampilan khusus mengenai kesehatan lingkungan.
Harapannya, para kader mampu menjadi agen perubahan (agent of change), yang mengedukasi teman sebaya secara mandiri mengenai pentingnya menjaga kebersihan sekolah, serta membantu menekan isu sosial seperti kasus putus sekolah, pernikahan dini, hingga aksi perundungan (bullying).
Untuk menjembatani komunikasi yang lebih harmonis antara pihak sekolah dan keluarga, program SI PITUNG turut mengintegrasikan kegiatan Parenting Class.
Melalui kelas pengasuhan ini, orang tua siswa dilibatkan aktif dalam memantau tumbuh kembang dan kesehatan anak, termasuk membantu pengisian formulir skrining mandiri bagi siswa pendidikan dasar.
Kombinasi metode ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta didik di Kecamatan Nguling. (one)
Editor : Jawanto Arifin