Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mencari Habitat

M
Penulis: Muhamad Busthomi❯
M Busthomi/ Jawa Pos Radar Bromo
M Busthomi/ Jawa Pos Radar Bromo

Advertisement

Oleh: M. Busthomi, wartawan Jawa Pos Radar Bromo

Di musim panas 1930, depresi besar menyapu dataran Great Plains Amerika. Ladang mengering. Topsoil beterbangan hingga ke Atlanta. Kelinci-kelinci berlari tanpa arah. Sebagian mati kelelahan, sebagian masuk ke kota-kota yang juga sedang sekarat.

John Steinbeck menulis terusirnya para petani Oklahoma dalam Anggur Kemurkaan. Bukan keinginan mereka meninggalkan tanah air. Mereka pergi karena karena negerinya tak lagi bisa menampung kehidupan.

Advertisement

Monyet-monyet di lereng Bromo, tentu saja, jauh lebih tidak mengerti mengapa mereka harus pergi. Api membakar savana begitu saja.

Di tengah asap pekat, yang tersisa adalah hewan-hewan yang berdiri di tepi habitat mereka yang sudah menghitam. Tidak tahu ke mana harus mencari makan. Apalagi kepada siapa harus berharap.

Jono tampaknya tahu. Ia baru saja merayakan Yadnya Karo, upacara masyarakat Tengger yang hidup berabad-abad di pemukiman dataran tinggi wilayah pegunungan Bromo. Ada pisang sisa sesaji. Ada monyet yang lapar. Maka Jono membagi-bagikannya.

Sebuah tindakan kecil. Tetapi mungkin justru karena kecil, itu menjadi penting.

Bagi ahli ekologi, hilangnya habitat adalah ancaman paling mematikan bagi kelangsungan spesies. Tapi ”habitat” tidak hanya berarti hutan.

Habitat bagi manusia juga berarti lapangan kerja. Lahan yang beralih fungsi. Usaha kecil yang tergerus oleh yang lebih besar dan lebih bermodal. Kesempatan hidup yang dulu tersedia, kini memerlukan koneksi yang tidak semua orang punya.

Indonesia hari ini punya lebih dari sejuta sarjana menganggur. Atau 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur. Mereka sudah melakukan apa saja yang diminta ”sistem bursa kerja”. Sekolah, lulus, mengantongi ijazah. Lalu berdiri di tepi ruang ekonomi yang tidak menyediakan tempat bagi mereka.

Tapi mereka bukan monyet-monyet di Bromo. Bukan kelinci-kelinci di Oklahoma. Steinbeck memberi nama kepada yang terusir itu Okies. Sejarah Indonesia mungkin punya nama lain, tapi lukanya sama.

Advertisement

Artikel Terkait

Berstatus Daerah Industri, Angka Pengangguran di Kabupaten Pasuruan Tembus 41 Ribu Jiwa, Ini Langkah Disnaker

Berstatus Daerah Industri, Angka Pengangguran di Kabupaten Pasuruan Tembus 41 Ribu Jiwa, Ini Langkah Disnaker

Tingginya pengangguran dipicu oleh faktor mismatch (ketidaksesuaian kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri), bonus demografi, ketatnya

Pemkot Pasuruan Patok Kemiskinan di Bawah 5,8 Persen

Pemkot Pasuruan Patok Kemiskinan di Bawah 5,8 Persen

Guna mengejar target, pemkot melakukan perombakan strategi intervensi dengan mengalihkan fokus bantuan ke sektor pemberdayaan yang produktif

Harus Turunkan 29.771 Jiwa untuk Kurangi Angka Kemiskinan di Kabupaten Probolinggo

Harus Turunkan 29.771 Jiwa untuk Kurangi Angka Kemiskinan di Kabupaten Probolinggo

Target penurunan angka kemiskinan tersebut membutuhkan kerja bersama seluruh perangkat daerah dengan mengedepankan program yang terukur dan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer