DONOR darah selama ini identik sebagai tindakan kemanusiaan. Namun di balik manfaat besar bagi penerima, kegiatan ini ternyata menyimpan banyak keuntungan bagi tubuh pendonornya.
Mulai dari menjaga kestabilan jantung, menurunkan kadar kolesterol jahat, hingga membuat tubuh terasa lebih bugar berkat proses regenerasi darah yang lebih teratur.
Kepala Bagian Pelayanan Darah UDD PMI Kabupaten Pasuruan, Sri Wahyuda, menyebut donor darah sebagai “kebaikan yang kembali ke tubuh pendonornya sendiri”.
Menurutnya, semakin banyak warga yang mengetahui manfaat ini, semakin sehat pula masyarakat.
“Kami sering sampaikan, donor darah bukan hanya amal sosial. Tubuh pendonor justru menjadi lebih bugar karena proses regenerasi darah terjadi lebih teratur. Itu sebabnya kami imbau donor dilakukan setiap tiga bulan sekali,” ujarnya.
Banyak orang datang ke PMI karena dorongan empati –menolong pasien kecelakaan, membantu penderita thalassemia, atau mendukung persediaan darah bagi rumah sakit.
Namun Sri Wahyuda mengatakan bahwa tubuh pendonor sendiri mendapat rangsangan alami untuk memperbarui sel darah.
“Begitu darah dikeluarkan, tubuh langsung memerintahkan sumsum tulang memproduksi sel darah merah baru yang lebih sehat dan segar. Itulah yang membuat pendonor merasa lebih enteng, lebih bugar, dan peredaran darahnya makin lancar,” jelasnya.
Peredaran darah yang lancar berdampak besar pada kesehatan jantung. Beberapa penelitian, kata Sri Wahyuda, bahkan menunjukkan kecenderungan risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis pada mereka yang rutin donor darah.
Bahkan ada hasil riset tentang menurunnya risiko penyumbatan pembuluh darah, serangan jantung, hingga stroke. Meskipun bukan obat, donor darah membantu menstabilkan kadar zat besi berlebih yang sering menjadi pemicu masalah jantung.
Kesehatan darah sangat menentukan kesehatan seluruh organ. Donor darah membantu tubuh menjaga komposisi darah tetap ideal, terutama terkait kadar kolesterol dan zat besi.
Menurut Sri Wahyuda, hasil pemeriksaan lab pendonor rutin sering menunjukkan tren penurunan kolesterol jahat dan trigliserida.
“Karena peredaran darah lebih lancar, metabolisme ikut membaik. Banyak pendonor yang bercerita kalau mereka merasa lebih ringan dan tidak cepat capek,” ujarnya.
Sel darah merah baru yang diproduksi pascadonor membuat kapasitas darah membawa oksigen meningkat.
Efeknya tidak hanya membuat tubuh lebih segar, tetapi juga membantu memperbaiki fungsi otot dan daya tahan fisik. Itulah sebabnya banyak pendonor aktif yang mengaku lebih kuat menjalani aktivitas harian.
Wajib Tes sebelum Transfusi
Setiap proses donor wajib melalui skrining ketat. Pemeriksaan tekanan darah, hemoglobin, hingga tes penyakit infeksi dilakukan sebelum darah dinyatakan layak transfusi. Bagi pendonor, ini menjadi keuntungan tersendiri.
“Banyak penyakit serius seperti hepatitis atau HIV yang awalnya tidak bergejala. Skrining donor menjadi alarm dini. Ketika ada temuan medis, kami informasikan secara pribadi agar bisa segera diperiksa ke fasilitas kesehatan,” terang Sri Wahyuda.
Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menolong orang lain tetapi juga memantau kondisi kesehatannya sendiri tanpa biaya.
Tak sedikit pendonor yang mengaku lebih tenang dan bahagia setelah mendonorkan darah. Sri Wahyuda menyebut ini sebagai manfaat yang jarang disadari.
“Ada kepuasan batin saat tahu darah kita bisa menyelamatkan orang. Perasaan itu memengaruhi hormon stres, membuat pikiran lebih positif. Banyak yang akhirnya menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat,” katanya.
Kebiasaan berbuat baik berulang kali juga mendorong pendonor untuk menjaga pola hidup lebih menjaga makanan, tidur cukup, dan mengurangi kebiasaan yang tidak sehat agar tetap bisa memenuhi syarat donor.
Beberapa kondisi medis ditandai dengan tingginya kadar zat besi dalam darah. Jika tidak dikontrol, timbul keluhan seperti mudah lelah, jantung berdebar, atau nyeri sendi. Donor darah membantu tubuh menyeimbangkan kembali kadar zat besi sehingga tidak menumpuk.
Selain itu, donor darah membantu menurunkan kekentalan darah, sehingga risiko terbentuknya gumpalan darah dapat ditekan. Efeknya, tekanan darah lebih terkendali dan tubuh terhindar dari kemungkinan penyumbatan yang membahayakan.
Sri Wahyuda memastikan proses donor darah aman dan mengikuti standar pelayanan transfusi darah. Peralatan sekali pakai, pemeriksaan ketat, dan pemantauan tenaga medis membuat proses ini bisa dilakukan siapa pun yang memenuhi syarat.
“Kami berharap masyarakat tidak perlu takut. Donor darah itu cepat, aman, dan manfaatnya luar biasa. Bukan hanya untuk pasien, tetapi juga untuk kesehatan pribadi kita. Kalau bisa, jadikan donor sebagai kebiasaan setiap tiga bulan,” tutupnya. (tom/fun)
Editor : Abdul Wahid