Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sering Kentut Apakah Itu Normal? Begini Penjelasan dari Sisi Medis

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 8 November 2025 | 16:00 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

KENTUT atau dalam istilah medis disebut flatus, merupakan hal yang sepenuhnya alami. Namun, bagaimana jika seseorang kentut terlalu sering. Bahkan sampai 20 kali hanya dalam lima menit? Apakah hal tersebut masih tergolong normal?

Menurut dr. Beny Rayen Suhendra, dokter umum Puskesmas Suko, Maron, kentut yang berlebihan bisa jadi hal yang wajar. Namun juga dapat menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaan tergantung pada penyebab dan gejalanya yang menyertai.

“Kentut itu adalah gas dari dalam pencernaan kita. Gas ini berasal dari hasil pengolahan makanan dalam usus, yang dipecah oleh bakteri baik di saluran cerna. Nah, sisanya menghasilkan gas, dan gas itulah yang akhirnya keluar sebagai kentut,” jelas dr. Beny Rayen.

Menurutnya, setiap orang sebenarnya memiliki frekuensi kentut yang berbeda-beda. Secara umum, seseorang dapat mengeluarkan gas sebanyak 10 hingga 20 kali per hari, dan hal itu masih tergolong normal.

Namun, bila frekuensinya terlalu sering dalam waktu singkat atau disertai keluhan lain, maka perlu diwaspadai adanya gangguan pencernaan tertentu.

“Kalau seseorang sering kentut, ada dua kemungkinan besar penyebabnya. Pertama, karena adanya kelemahan pada otot penahan gas di anus. Kedua, karena faktor makanan beberapa jenis makanan memang bisa memicu produksi gas berlebih di usus,” ujar dr. Beny.

Beberapa makanan diketahui menjadi pemicu utama produksi gas, seperti kacang-kacangan, kol, brokoli, susu, minuman bersoda, serta makanan tinggi serat tertentu. Kandungan karbohidrat kompleks pada makanan tersebut sulit dicerna sepenuhnya oleh tubuh, sehingga difermentasi oleh bakteri usus, menghasilkan gas hidrogen, metana, dan karbon dioksida.

Selain faktor makanan, gaya hidup dan kebiasaan makan juga dapat memengaruhi. Misalnya, makan terlalu cepat, sering mengunyah permen karet, atau menelan udara saat berbicara sambil makan dapat membuat udara ikut masuk ke saluran pencernaan dan menumpuk menjadi gas.

“Yang penting itu tidak ada keluhan lain seperti nyeri perut, kembung berlebihan, mual, muntah, atau sulit buang air besar. Kalau tidak ada gejala-gejala itu, kentut sering biasanya masih dalam batas normal,” tegas dr. Beny.

Namun, bila seseorang mengalami kentut yang berlebihan disertai bau tidak sedap, perut terasa begah, atau ada gangguan buang air besar, maka bisa jadi itu menandakan adanya dysbiosis. Suatu kondisi ketidakseimbangan flora normal di usus. Ketidakseimbangan ini bisa disebabkan oleh pola makan tidak sehat, konsumsi antibiotik berlebih, atau gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome).

Sebagai solusi, dr. Beny menyarankan untuk memperbaiki pola makan dan gaya hidup terlebih dahulu. “Kurangi konsumsi makanan penghasil gas, perbanyak minum air putih, dan makan dengan perlahan. Kalau perlu, konsumsi probiotik untuk membantu menyeimbangkan kembali bakteri baik di usus,” tuturnya.

Selain itu, penting juga untuk mengatur waktu makan secara teratur dan menghindari kebiasaan menahan buang gas, karena dapat menyebabkan rasa nyeri dan tekanan berlebih pada usus.

Jika gejala tidak membaik, pasien disarankan untuk berkonsultasi langsung agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Misalnya untuk mendeteksi intoleransi laktosa, gangguan enzim pencernaan, atau infeksi saluran cerna.

Bukan Semata karena Makanan

MENURUT data medis, gas berlebih dalam saluran pencernaan bukan hanya disebabkan oleh makanan. Tetapi juga bisa karena stres dan kecemasan, yang dapat memperlambat gerakan usus dan mengubah pola bakteri pencernaan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah kentut berlebihan.

“Kalau masih ragu atau merasa terganggu dengan frekuensi kentut yang tidak biasa, sebaiknya periksa langsung ke fasilitas kesehatan. Dengan begitu, penyebab pastinya bisa diketahui dan ditangani sesuai kondisi masing-masing pasien,” beber dr. Beny Rayen Suhendra.

Dengan memahami penyebab, dampak, dan cara mengatasinya, masyarakat diharapkan tidak langsung panik bila mengalami kentut berlebihan. Namun, tetap perlu waspada jika ada gejala penyerta lainnya yang mengindikasikan gangguan pada sistem pencerna. (mu/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#buang gas #kentut