BANYAK orang menganggap nyeri punggung atau pegal di pinggang sebagai hal sepele. Padahal, keluhan itu bisa jadi sinyal awal gangguan pada tulang belakang. Jika diabaikan, dampaknya bisa menjalar ke organ lain, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gangguan tulang belakang biasanya diawali dengan nyeri di punggung bawah, kaku saat bangun tidur, atau kesemutan di tangan dan kaki. Dalam kasus lebih parah, penderita merasakan nyeri menjalar hingga tungkai, sulit berjalan, dan cepat lelah.
Gangguan tulang belakang bukan sekadar urusan tulang dan otot. Posisi tulang yang tidak normal bisa menekan saraf, memicu gangguan tidur, menurunkan produktivitas kerja, hingga membuat penderita kesulitan berdiri lama.
Bahkan, dalam kasus skoliosis berat, bentuk tubuh bisa berubah dan menurunkan rasa percaya diri.
Penyebab gangguan tulang belakang cukup beragam. Mulai dari postur tubuh yang salah saat duduk atau bekerja, kebiasaan mengangkat beban berat, cedera olahraga, hingga faktor bawaan lahir seperti skoliosis kongenital.
Di era digital, posisi duduk terlalu lama menunduk menatap gawai juga jadi biang keladi.
Wajah Wahono, 52, warga Pandaan, tampak sumringah saat ditemui pasca operasi di RSUD Bangil.
Beberapa bulan sebelumnya, ia hanya bisa berjalan membungkuk karena saraf terjepit parah di tulang belakang. Rasa nyeri membuatnya sulit tidur bahkan sekadar duduk tegak.
“Awalnya saya kira penyakit biasa. Ternyata makin lama makin parah. Jalan saja harus nunduk. Rasa sakitnya luar biasa,” kenang Wahono.
Ia akhirnya memberanikan diri menjalani tindakan di RSUD Bangil. Lima hari setelah operasi, keadaannya berubah drastis. “Saya bisa berdiri tegak lagi. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Semua biaya juga ditanggung BPJS,” ujarnya lega.
Cerita Wahono bukan satu-satunya. RSUD Bangil kini menjadi rujukan utama pasien tulang belakang. Sejak 2023, lebih dari 50 pasien dengan kondisi serius ditangani. Ada yang mengalami skoliosis, fraktur tulang belakang, hingga TBC tulang belakang.
Salah satu yang paling dramatis adalah seorang pemuda 19 tahun yang datang dalam kondisi lumpuh akibat infeksi. Dari tubuhnya, dokter menemukan cairan nanah hingga dua liter.
“Kalau terlambat sedikit, risikonya bisa kelumpuhan permanen,” terang dr. Hamzah, Sp.OT (K), subspesialis tulang belakang RSUD Bangil.
Menurut Hamzah, banyak pasien menunda datang karena takut operasi. “Padahal, tidak semua kasus harus operasi besar. Ada metode radiofrekuensi dan endoskopi yang jauh lebih ringan,” jelasnya.
RSUD Bangil sendiri sudah memiliki fasilitas lengkap, setara dengan rumah sakit tipe A. Dari MRI, laboratorium penunjang, hingga implan tulang belakang modern, semua tersedia.
“Kami siap tangani kasus ringan sampai kompleks. Jangan tunggu lumpuh baru datang,” tegas Hamzah.
- Broto Suwadji, Sp.OT (K), subspesialis panggul dan lutut, menambahkan bahwa pasien Pasuruan kini tidak perlu repot ke luar kota. “Operasi tulang belakang bisa dilakukan di sini dengan standar medis terbaru dan langsung ditangani super-spesialis,” ujarnya.
Efektivitas layanan orthopaedi spine di RSUD Bangil dibuktikan lewat banyak pasien yang pulih. Dari yang awalnya tak bisa jalan, kini bisa kembali beraktivitas normal. Dan yang paling penting, hampir semua tindakan dapat ditanggung BPJS.
“Operasi tulang belakang tidak semenakutkan yang dibayangkan. Justru dengan penanganan tepat, pasien bisa pulih total,” pungkas Wahono. (tom/fun)
Editor : Fandi Armanto