SEMUA orang sudah paham bahwa merokok tidaklah sehat. Rokok tidak hanya membahayakan bagi yang aktif dan pasif. Tapi merokok bagi orang yang sudah terbiasa, menjadi hal yang harus dilakukan kapanpun dan dimanapun berada. Selama tidak merokok di dekat anak, orang mengira asap masih aman. Namun jangan salah asap rokok juga memiliki dampak kesehatan bagi anak.
Rokok telah menjadi warisan budaya yang nyaris tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia hadir dalam obrolan antar tetangga, disodorkan dalam jamuan keluarga, dan dinyalakan nyaris menyerupai ritual setelah makan. Ini berlaku universal di seluruh dunia.
Tapi dalam suasana yang tampak akrab dan wajar itu, tersembunyi ancaman medis yang sangat nyata. Terutama bagi jantung anak-anak yang masih belajar berdetak dengan sempurna.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di RS Graha Sehat, dr. Kresna Nugraha Setia Putra, Sp. JP, FIHA mengatakan, paparan asap rokok dalam rumah tangga bukan hanya meningkatkan risiko infeksi pernapasan dan asma pada anak.
Tetapi juga memperbesar kemungkinan gangguan jantung di kemudian hari.
Penelitian dari Journal of the American College of Cardiology menyatakan bahwa anak yang tumbuh bersama orang tua perokok, memiliki kemungkinan signifikan lebih tinggi mengalami fibrilasi atrial saat dewasa.
Sebuah gangguan ritme jantung yang dapat menyebabkan stroke dan gagal jantung.
“Setiap batang rokok yang dibakar di dekat anak bukan hanya asap. Tapi potensi luka permanen dalam sistem kardiovaskular mereka,” katanya.
Data Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat bahwa lebih dari 70 persen anak di bawah usia 5 tahun terpapar asap rokok dalam rumah.
Baik secara aktif maupun pasif. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru menjadi ladang racun tak terlihat. Mereka tidak memiliki pilihan.
Mereka hanya bernapas, dan menerima apa pun yang disebarkan oleh orang dewasa di sekitarnya.
Masalahnya tidak selesai pada paparan langsung. Studi dari Central South University, Tiongkok, menunjukkan bahwa seorang calon ayah yang merokok sebelum pembuahan, dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan cacat jantung bawaan sebesar 74 persen.
Sementara itu, ibu yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif selama kehamilan memiliki risiko 124 persen lebih tinggi melahirkan bayi dengan kelainan jantung.
Cacat jantung bawaan bukan hal sepele. Banyak kasus yang memerlukan tindakan bedah dini.
Pemantauan seumur hidup, hingga keterbatasan fisik yang berpengaruh terhadap kualitas hidup si anak. Dan semua itu bisa dimulai dari sebuah kebiasaan kecil yakni orangtua yang enggan berhenti merokok.
“Ini artinya, bahkan sebelum seorang anak mengenal dunia, jantungnya bisa membawa luka warisan dari rokok yang dibakar jauh sebelumnya,” ucapnya.
Merokok Memiliki Tiga Jenis Paparan
Merokok rupanya memiliki tiga jenis paparan asap. Meliputi aktif (si perokok sendiri), pasif (orang yang menghirup asap dari sekitar), dan thirdhand smoke atau asap rokok tersisa. Ini adalah partikel kimia yang menempel pada baju, rambut, sofa, dan bahkan kulit.
Seorang ayah mungkin merokok di luar rumah. Tapi saat ia memeluk anaknya setelah itu, partikel nikotin dan racun lainnya tetap menempel dan masuk ke sistem tubuh si kecil melalui kulit atau pernapasan.
Anak-anak bahkan bisa menyerap racun rokok hanya dengan menyentuh permukaan yang terpapar dan memasukkan tangan ke mulut.
Dokter Kresna Nugraha Setia Putra mengatakan, studi menunjukkan bahwa thirdhand smoke bisa bertahan lebih dari 2 minggu dalam satu ruangan tertutup. Dan kandungan racunnya tetap aktif selama itu. Maka, mengatakan
“Saya tidak merokok di dekat anak saya” tidaklah cukup. Karena racun tetap dapat masuk ke paru-paru anak.
Anak-anak yang terpapar asap rokok dalam jangka panjang lebih berisiko mengalami hipertensi primer di masa remaja, memiliki kadar kolesterol LDL yang lebih tinggi, dan menunjukkan gejala disfungsi endotel vaskular lebih awal dibandingkan teman sebaya yang tidak terpapar.
“Ini semua adalah langkah awal menuju penyakit jantung koroner dan stroke di usia dewasa,” tuturnya.
Laporan dari WHO menyatakan bahwa lebih dari 165.000 anak meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan oleh asap rokok pasif.
Artinya, setiap 3 menit, satu anak di dunia kehilangan nyawa. Bukan karena ia memilih, tetapi karena orang dewasa di sekitarnya memilih untuk terus merokok.
Padahal, setiap ayah tentu ingin menjadi pahlawan bagi anaknya. Ingin memberikan perlindungan, rasa aman, dan masa depan cerah. Tapi bagaimana bisa kita menyebut diri pelindung, jika tindakan sehari-hari justru menjadi penyebab luka yang tak terlihat dalam tubuh anak?
“Berhenti merokok bukan tugas ringan. Tapi cinta sejati selalu menuntut pengorbanan. Banyak ayah yang berhasil berhenti karena dorongan kasih terhadap keluarganya. Dan mereka merasakan kebanggaan tersendiri: bukan hanya karena mereka lebih sehat, tetapi karena mereka mampu mengubah racun menjadi harapan,” bebernya.
Pemerintah telah meluncurkan berbagai kampanye anti merokok, termasuk kawasan bebas rokok, pajak tinggi, dan peringatan bergambar. Tapi semua itu akan sia-sia jika di dalam rumah, rokok tetap menyala.
Solusinya adalah gerakan bersama komunitas, sekolah, tokoh agama, dan media harus bersatu untuk menggugah hati para ayah—bahwa menghentikan rokok bukan sekadar keputusan pribadi, tapi bentuk cinta terbesar yang bisa diberikan pada anak.
“Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan dengan jantung yang lemah. Mereka juga tak tahu apa itu nikotin, tar, atau karbon monoksida. Mereka hanya tahu memeluk ayahnya, mencium aromanya, dan merasa aman dalam dekapannya. Dalam setiap denyut nadi anak, ada harapan. Jangan biarkan harapan itu tercekik oleh asap rokok,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni