Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Fenomena Suicidal Thoughts di Probolinggo, Faktor dan Sebabnya dari Sisi Psikolog

Inayah Maharani • Selasa, 29 April 2025 | 02:24 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Kejadian bunuh diri di wilayah Probolinggo makin marak. Berdasarkan catatan Jawa Pos Radar Bromo, setidaknya ada empat kejadian selama April saja. Tiga kasus di Kabupaten Probolinggo serta satu kasus di Kota Probolinggo. Mengapa mereka begitu nekat mengakhiri hidupnya dengan tragis?

 

BERAGAM faktor bunuh diri bisa terjadi. Bisa dari lahir dari keputusa- asaan hingga kemarahan. Namun fenomena bunuh diri sangat kompleks. Sehingga penyebabnya pun sukar ditentukan.

“Fenemona ini bisa terjadi karena depresi, korban mengalami penyakit mental seperti kepribadian ambang. Ada pula yang tidak sadar bahwa dia depresi tapi kemudian bunuh diri,” kata salah satu Psikolog di RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo, Mariya Manna M.Psi. Psikolog.

Kata Mariya, perilaku bunuh diri ini dapat terjadi di semua usia, semua kalangan, bahkan status sosial. Kemiskinan dan tingkat perkonomian yang rendah bukan satu-satunya penyebab seseorang bisa nekat bunuh diri.

Berdasarkan literatur yang pernah dia baca, bunuh diri banyak terjadi pada perempuan muda. Namun resiko itu meningkat pada laki-laki seiring berlanjutnya usia.

“Perilaku ini bisa terjadi pada orang tua, remaja, bahkan yang kaya atau miskin. Semua kalangan,” jelasnya.

 

Tanda-Tanda Depresi

 

MARIYA Manna menjabarkan ada beberapa tanda depresi atau tanda bahwa mental kita sedang tidak sehat. Itu ditandai dengan ciri-citi seperti mulai merasa sedih berkepanjangan, merasa hampa, merasa tidak bisa keluar dari masalah, tidak ada hal yang disuka, hingga mulai tidak produktif.

Jika mulai merasakan hal tersebut, kata Mariya, seseorang tersebut harus mulai meminta bantuan para ahli seperti psikolog dan psikiater.

“Pertama jangan takut cerita paling tidak biar perasaannya plong tidak berat. Penting untuk meminta pertolongan profesional,” katanya.

Jika tak cukup untuk berkonsultasi, maka obat dari psikiater akan sangat membantu mengontrol perasaan buruk dan perilaku. Atau punya pemikiran ingin melakukan tindakan bunuh diri.

Mariya juga berpesan bahwa dengan meminta pertolongan psikolog, tak lantas menjadikan seseorang dianggap gila.

Pertolongan psikolog dan psikiater akan sangat membantu untuk membuat kehidupan jadi lebih baik.

“Jangan takut dianggap gila. Datang ke psikolog atau psikiater itu bukan karena gila. Justru karena biar seseorang itu bisa kembali berfungsi. Kembali produktif,” jelasnya.

Tidak adanya support system yang baik dari keluarga atau orang terdekat, akan memperparah kecenderungan orang bunuh diri. Sebab mereka akan merasa hampa dan sendirian.

Mekanisme koping (strategi atau cara, red) yang buruk terhadap masalah yang diderita membuat seseorang memiliki dorongan kuat untuk bunuh diri.

“Kalau untuk orang terdekat, semisal kita tahu bahwa ada keluarga atau teman kita yang sedang tidak baik-baik, kita perlu ajak cerita. Setidaknya agar mereka tidak merasa sendiri,” pungkasnya.

 

Kejadian Bunuh Diri di Probolinggo Selama April

Tanggal         Korban dan Usia                 Alamat

5 April             EF, 32                                     Bantaran

8 April             DD 39                                     Sukapura

20 April          WS, 60                                     Mayangan

22 April          MC, 25                                     Banyuanyar

 

(mg/fun)

 

Editor : Fandi Armanto
#bunuh diri #kejiwaan #depresi #stress