PERTUMBUHAN fisik anak terjadi di rentang usia 5-17 tahun. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mererekomendasikan agar anak yang berusia di rentang tersebut, agar aktif bergerak per hari dalam tiga hari per minggu. Tantangan orang tua di zaman saat ini, adalah mengalihkan kebiasaan anak bermain gadget supaya mau berolahraga.
Sudah hampir sebulan ini, Fitri, 39, rela bolak-balik rumah-kolam renang. Dia mengantarkan Aqila, 6, anaknya yang masih duduk di Taman Kanak-kanak, agar mau berenang. Sebab, anaknya memiliki penyakit asma.
Keputusan Fitri mengikutkan Aqila kursus berenang bukan tanpa alas an. Sang anak, sangat jarang beraktivitas yang menguras fisiknya.
Setelah dia berkonsultasi dengan dokter, dia akhirnya mendaftarkan Aqila ke klub renang. Meskipun itu cukup menguras waktunya setelah seharian bekerja.
“Karena kata dokter, anak saya ini harus dilatih yang menyita fisik. Maka renang adalah salah satunya,” beber Fitri.
Sehingga kini tiap tiga kali dalam sepekan, Fitri lama-lama terbiasa walaupun jarak kolam dari rumahnya di Purutrejo dengan kolam di Pohjentrek, cukup jauh. Hanya dalam sebulan, Aqila juga terbiasa. Bahkan selalu menagih untuk diajak ke kolam renang.
Memang membiasakan anak untuk berolahraga, butuh effort dari orang tua. Ini juga diakui Nadia Kusumawardhani, pelatih di klub Aquasprint. Klubnya yang sudah setahun ini membuka pelatihan untuk anak usia dini, rata-rata mendapatkan siswa, seperti contoh kasus yang dialami Fitri.
“Para orang tua ingin anaknya bisa berolahraga, dan kebanyakan memilih berenang. Karena berenang memang bisa dilakukan dan baik untuk anak usia dini,” beber Nadia.
Nadia tentu punya cara untuk anak-anak yang baru akan mengawali latihan. Terutama ketika mengenalkan ke kolam renang.
Karena tidak semua anak berani dan mau untuk nyemplung ke kolam renang. Belum lagi karakter tiap-tiap anak berbeda.
“Mereka yang datang untuk berlatih, juga karena kondisi berbeda. Ada yang ingin agar anaknya bisa berenang, ada yang karena alasan kesehatan hingga karena trauma seperti pernah tenggelam,” beber Nadia.
Wanita yang juga atlet selam nasional ini bercerita, pernah suatu ketika dia dipercaya melatih bocah empat tahun yang pernah tenggelam di kolam ikan.
Karena khawatir jadi trauma berkepanjangan, orang tua bocah tersebut memintanya mengajarinya berenang. Karena anaknya begitu takut dengan air.
Singkatnya, Nadia langsung mengajari bocah tersebut dengan pelan-pelan. Yang pertama, Nadia harus menghilangkan rasa traumatisnya. Caranya, dengan mengajak bermain di sekitar kolam renang.
“Bermain hoolahoop hingga mencari objek gelang di dataran. Ini Namanya Latihan playground,” beber Nadia.
Lama-lama, bocahtersebut akhirnya tak lagi trauma dengan air. Bahkan saat diajak masuk ke kolam, bocah tersebut tak lagi berteriak histeris atau ketakutan. Meski, kata Nadia, waktu yang dia perlukan agar bocah tersebut mau berolahraga, cukup lama dari anak-anak yang tak trauma.
Begitu juga dengan bocah-bocah yang punya sakit seperti asma. Kebanyakan, kata Nadia, bocah yang punya asma, disarankan untuk latihan berenang. Nah, untuk latihannya, Nadia dan timnya juga selalu berkonsultasi dengan orang tua dan dokter yang menangani bocah tersebut.
“Misalnya, asma karena apa hingga apa yang harus dihindari. Lewat perantara orang tua, maka latihan bisa diukur,” beber Nadia.
Membiasakan anak-anak untuk olahraga rutin, memang butuh effort. Minimal orang tua harus menyisihkan waktu dan tenaga. Seperti latihan renang, biasanya digelar siang atau malam hari.
Untuk mengawalinya, memang berat. Karena orang tua harus menunggu anak selama latihan. Tapi orang tua akan puas bila anak-anaknya gemar berolahraga. Mereka rata-rata jarang sakit. Istirahatnya juga teratur. Bila di sekolah, rasa percaya dirinya juga lebih tinggi ketimbang temannya yang tak gemar berolahraga.
Jadi Atlet Itu Bonus
Memang tak sedikit orang tua yang mengikutsertakan anaknya untuk berolahraga, agar sehat. Tapi tak sedikit yang punya harapan agar buah hatinya bisa jadi atlet kelak. Jika memang intens dan punya bakat, anak memang bisa menjadi atlet.
Ini juga diakui Nadia Kusumawardani, pelatih di Aquasprint. Selama beberapa kali menangani anak-anak yang berlatih renang, dia kebanyakan menemui bahwa orang tua sang anak, ingin agar sehat. “Tetapi ketika sang anak terlihat ada bakat dan kemauan, kami bisa arahkan untuk leih serius,” beber Nadia.
Seorang anak, tidak langsung dilatih berenang. Tapi minimal dia dikenalkan dengan atlet dahulu. “Supaya mereka punya idola dan ada rasa ingin menirunya,” beber Nadia.
Ini karena tak semua orang bisa menjadi atlet. Saat seorang anak mulai berlatih olahraga, jelas yang dicari adalah kesehatan. “Tapi saat anak ada potensi menjadi atlet, itu adalah bonus,” beber Nadia.
Muhammad Imron, 39, adalah salah seorang yang merasakannya. Anak pertama dan keduanya, rutin berlatih renang sejak masih belia. Alasan pertama dia mengenalkan renang karena, olahraga ini terbilang lebih cocok untuk anaknya.
“Semenjak anak-anak rutin olahraga renang, semenjak itupula kebiaaan bermain gadget berkurang. Jadi siklusnya, setelah pulang dari sekolah, belajar di rumah untuk mengerjakan PR. Lalu sore ke kolam renang dan pulang menjelang malam. Sampai di rumah, mengaji. Setelah itu anak sudah Lelah dan istirahat tidur malam. Dan saat bangun, kondisi lebih segar,” kata Imron. (tom/fun)
Editor : Jawanto Arifin