Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Kondektur Bus Jadi Dokter Sejumlah Klub Liga 1 hingga Timnas Indonesia

Muhammad Fahmi • Rabu, 31 Januari 2024 | 23:06 WIB
Elwizan Aminudin  saat kasusnya dirilis di Polres Sleman, Jogjakarta. (Jawa Pos Radar Jogja)
Elwizan Aminudin saat kasusnya dirilis di Polres Sleman, Jogjakarta. (Jawa Pos Radar Jogja)

SLEMAN –Sempat buron lebih dari 2 tahun, mantan dokter tim nasional (timnas) U-19 sepak bola Indonesia dan beberapa klub Liga 1 akhirnya berhasil ditangkap.

Ironisnya, Elwizan Aminudin ternyata berprofesi sebagai kondektur bus sebelum banting setir jadi dokter tim sepak bola.

Hanya dengan cara mengambil contoh ijazah di Google, diunduh lalu diedit, Elwizan Aminudin bisa menjadi dokter tim nasional (timnas) U-19 sepak bola dan beberapa klub Liga 1.

Fakta itu terungkap menyusul tertangkapnya Amin (sapaan akrab pria 41 tahun tersebut) oleh Satreskrim Polres Sleman, Jogjakarta, setelah lebih dari dua tahun menjadi buron.

”Selain menjadi kondektur bus, dia usaha toko kelontong,” kata Kasatreskrim Polresta Sleman AKP Riski Adrian dalam jumpa pers di Mapolres Sleman kemarin (30/1) sebagaimana dilansir Jawa Pos Radar Jogja.

Amin dibekuk di Cibodas, Kota Tangerang, Banten, pada Rabu (24/1) pekan lalu.

Menurut Riski, proses perburuannya berlangsung lama karena pelaku berpindah-pindah lokasi tinggal.

Kasus Amin pertama mencuat pada November 2021. Dia terendus sebagai dokter gadungan setelah manajemen PSS mendapat klarifikasi dari Universitas Syiah Kuala.

Merasa aksi jahatnya mulai terendus, tersangka pergi meninggalkan PSS pada awal Desember 2021 dengan alasan pulang ke Palembang karena orang tuanya sakit. PSS kemudian melaporkannya ke polisi pada 4 Desember 2021.

Kapolresta Sleman Kombespol Yuswanto Ardi menjelaskan, setelah itu pelaku tidak pernah kembali hingga ditangkap.

”Akibat kejadian tersebut, PSS Sleman mengalami kerugian sebesar Rp 254 juta," ungkapnya.

Ada sejumlah pemain yang menjadi korban penanganan Amin. Kiper Timnas Ernando Ari dan striker Saddam Gaffar di antaranya.

Ernando yang membela Persebaya Surabaya ditangani dokter palsu tersebut saat memperkuat timnas U-19. Adapun Saddam ditangani Amin di PSS.

Riski menyampaikan, Amin melakukan pemalsuan terhadap ijazah dokternya dengan cara sederhana. ”Jadi, simpel ngambil salah satu contoh ijazah di Google, dia download, lantas diedit. Dimasukkan dan diubah nama dan dimasukkan fotonya," beber dia.

Dengan cara sederhana itu, Amin mengelabui banyak orang karena dianggap sebagai dokter. Dari pendalaman yang dilakukan polisi, pelaku memiliki sejumlah pekerjaan yang tidak ada kaitannya dengan kedokteran.

”Sebelum bekerja sebagai dokter gadungan di beberapa tim sepak bola itu, dia bekerja sebagai kondektur bus kota di daerah Tangerang, juga sambil usaha toko kelontong," imbuhnya.

Amin nekat menjadi dokter gadungan karena motif ekonomi. Yakni, mencari pekerjaan dengan pendapatan yang lebih tinggi daripada pekerjaan sebelumnya.

Adapun cara menangani pemain yang cedera saat bekerja menjadi dokter gadungan, Amin bermodal Google pula.

Riski menyebutkan, hasil keterangan dan pengakuan pelaku, ada sembilan tim sepak bola yang pernah menjadi tempatnya bekerja, termasuk PSS.

”Tim-tim tempat dia pernah bekerja, Persita Tangerang, Barito Putera, timnas U-19, Bali United, Madura United, Sriwijaya FC, kembali ke timnas U-19, Kalteng Putra, PSS Sleman. Itu dari 2013 sampai 2021," ungkapnya.

PSS, Persita, Barito, Bali United, dan Madura United sampai saat ini masih bermain di Liga 1.

Riski menambahkan, selain sering berpindah-pindah untuk melarikan diri dari Palembang ke Depok, penangkapan Amin juga terkendala masalah identitasnya yang kerap diubah. Dia mengubah identitas KTP-nya yang sebelumnya beralamat di Palembang menjadi beralamat di Depok.

Sementara itu, Presiden Direktur PSS Gusti Randa mengatakan, posisi dokter di sebuah tim sepak bola profesional sangatlah penting.

”Saddam sampai hari ini tidak bisa main karena mungkin tidak fit. Saddam cedera saat itu kalau tidak salah dia (Amin) yang merekomendasikan," ungkapnya.

Amin dijerat Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan/atau Pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Gusti Randa yang juga hadir berterima kasih atas pengungkapan kasus tersebut. (rul/c9/ttg/JawaPos)

Editor : Muhammad Fahmi
#dokter gadungan