Dia adalah Bagas Pramudi, 26, warga Jl Tambora, Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Namun, korban melawan. Dia menolak memberikan uang yang diminta pelaku. Para pelaku pun kabur dengan tangan hampa.
Aksi pemalakan itu terjadi sekitar pukul 00.00. Saat itu, korban yang seorang satpam di sebuah pabrik di Jalan Brantas Kota Probolinggo, mengantar rekannya pulang ke Perum Asabri. Tidak jauh dari Jalan Maramis.
“Saat itu saya pulang latihan silat. Karena satu arah, saya juga mengantar teman pulang ke rumahnya di Perum Asabri,” terang Bagas, Kamis (17/2) siang saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.
Usai mengantar temannya, korban pun pulang lewat Jalan Maramis. Dia melaju dari utara ke selatan dengan mengendarai motor Yamaha Bison Nopol AG 2155 ECB.
Tiba-tiba seorang pelaku yang sedang mabuk mencegat korban. Dia lantas meminta sejumlah uang pada korban. Tidak sendirian, pelaku itu bersama enam rekannya. Mereka mengelilingi korban. Sementara lima motor terparkir di sekitar mereka.
Namun, korban menolak memberikan uang yang diminta. Karena menolak, seorang pelaku memukul kepala korban dari belakang.
“Awalnya dia minta uang pada saya. Karena saya menolak, satu orang tiba-tiba memukul kepala saya dari belakang. Beruntung saya pakai helm. Mereka kemudian langsung mengeroyok saya,” bebernya.
Maka, perkelahian tidak seimbang pun terjadi. Korban dikeroyok tujuh pelaku. Satu di antara pelaku bahkan membawa balok kayu dan menggunakannya sebagai senjata memukul korban.
Korban kemudian melepas helm yang dipakai dan menggunakannya sebagai senjata untuk memukul tujuh lawannya. Pelaku yang memegang balok kayu berhasil dihajar korban hingga babak belur. Sementara enam lainnya melarikan diri.
“Saya berhasil menahan yang pegang kayu ini. Rencananya mau saya bawa ke polsek. Tapi, ternyata enam rekannya yang kabur kembali dengan membawa balok kayu,” lanjutnya.
Pengeroyokan pun berlanjut. Korban kembali dikepung tujuh pelaku. Beruntung, korban berhasil mengimbangi serangan para pelaku yang dalam kondisi mabuk. Sehingga mereka akhirnya kabur. Bahkan, motor milik korban pun selamat.
“Kalau saya kalah, mungkin motor saya juga diambil. Untungnya mereka mabuk, jadi masih bisa menang melawan mereka. Lagi pula saya terdesak, akhirnya mau tidak mau harus melawan,” tuturnya.
Korban sendiri tak melaporkan pemalakan itu kepada petugas kepolisian sampai kemarin. Alasannya, barangnya tak ada yang hilang.
Namun, korban sangat berharap agar Jalan Maramis mendapat perhatian khusus. Bahkan, kalau bisa sering dipantau. Sebab, lokasi tersebut memang rawan tindak kriminal. Apalagi, kalau malam hari penerangan minim. Sehingga berpotensi dijadikan lokasi aksi tindak kriminal.
“Helm saya sampai pecah buat mukul mereka. Jaket saya juga sobek-sobek. Harapan saya lokasi itu dipantau berkala,” bebernya.
Kapolsek Mayangan Kompol Hermawan menegaskan, Jalan Maramis sebenarnya sudah masuk wilayah patroli. Patroli bahkan dilakukan secara terbuka dan tertutup. Kendati demikian, ia mengimbau warga agar tak keluar malam jika tak ada kepentingan yang mendesak.
“Kami imbau agar masyarakat juga turut waspada. Jangan keluar sendirian. Apalagi pada malam hari,” bebernya. (rpd/hn)
Editor : Muhammad Fahmi