Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bermula dari TikTok, Tetangga di Cangkring Kanigaran Gegeran

Jawanto Arifin • Kamis, 11 November 2021 | 16:55 WIB
LAPOR POLISI: Ahmad Saihu yang menunjukkan jahitan atas luka yang diterimanya. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
LAPOR POLISI: Ahmad Saihu yang menunjukkan jahitan atas luka yang diterimanya. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
KANIGARAN, Radar Bromo - Perselisihan dua keluarga warga Jalan Cangkring, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, semakin meruncing. Bahkan, sampai masuk ke ranah kepolisian.

Senin (8/11), pukul 15.00, Ahmad Saihu, 46 dan putrinya, Sais Putri, 20, melapor ke Polres Probolinggo Kota. Mereka mengaku dianiaya putra tetangganya, lelaki berinisial AG.

Saihu mengatakan, sebelumnya, Minggu (7/11) pagi, putrinya, Nita, 28, bermain TikTok di halaman rumahnya. Tiba-tiba tetangganya, perempuan berinisial BH, memarahi Nita.

“BH marah-marah di depan pagar saya kepada Nita. Tapi, oleh Nita tidak begitu dihiraukan. Memang anak pertama saya ini pendiam. Berbeda dengan adik-adiknya. Main TikTok-nya juga di halaman dalam pagar rumah saya,” ujarnya.

Saihu mengaku, sudah lama keluarganya tidak akur dengan keluarga BH. Namun, tidak pernah sampai main tangan. “BH punya dua anak. AG, anak laki-laki pertama dan sudah berkeluarga. Jadi, tidak tinggal serumah (dengan BH). BH tinggal dengan suaminya yang sudah sepuh dan anak perempuannya,” jelas Saihu.

Minggu (7/11) siang, putra pertama BH yang berinisial AG, terlihat mondar-mandir di depan rumah korban. Ketika melihat Saihu tengah memperbaiki sangkar burung di depan rumahnya, raut wajahnya terlihat tidak bersahabat.

“Saya sudah firasat. Kok AG mondar-mandir di rumah dan tatapannya tidak enak. Informasi yang saya terima, BH (ibu AG) mengaku dikeroyok oleh keluarga saya kepada AG. Mungkin AG tidak terima jika ibunya dikeroyok,” jelasnya.



Agar tidak menjadi masalah berkepanjangan, Minggu (7/11) malam, Saihu mendatangi rumah BH. Ia berusaha menyelesaikan permasalahannya. Kata Saihu, saat itu sudah klir.

Namun, Senin (8/11), sekitar pukul 15.00, AG kembali datang. Ia langsung menghampiri Saihu, yang tengah berada di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, AG langsung memukulnya berulang-ulang. Karenanya, Saihu sampai luka robek dan memar di bagian wajahnya.

Mendapati Saihu dipukuli, putrinya, Sais Putri, berusaha melerainya. Namun, ternyata dia juga mendapatkan bogem mentah dari AG hingga hidungnya berdarah.

Setelah membuat Saihu terjatuh dan memukul Putri, AG masuk ke rumahnya. Pria yang disebut-sebut sebagai pegawai honorer di Pemkot Probolinggo, itu mencari celurit. Syukur sejumlah warga sekitar berhasil mencegahnya.

“Saya tidak tahu dipukul sama apa. Sepertinya tangan kosong, tapi dia pegang kunci motor. Akibatnya, saya harus menerima beberapa jahitan. Anak perempuan saya juga dipukuli hidungnya hingga berdarah,” ujar Saihu.

Tak terima, Saihu beserta Putri mempolisikan AG. Hari itu juga dia melapor ke SPKT Polres Probolinggo Kota. Mereka pun divisum. Dalam kasus ini, Saihu mengaku menginginkan AG diproses secara hukum.

“Kalau mau damai oke, tapi rumah, mobil, beserta isinya kasihkan ke saya. Jika tidak, ya sudah, kami tidak ingin damai. Mengapa permintaan kami sangat tinggi. Karena kami memang tidak ingin damai,” jelas Saihu.



Saihu dengan BH, sejatinya bertetangga. Rumahnya berhadap-hadapan, hanya serong satu rumah dipisahkan oleh jalan kampung. Namun, saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi rumah BH untuk dimintai keterangan, rumahnya sepi.

Terkait proses hukum terhadap kasus ini juga belum diperoleh keterangan dari kepolisian. Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Teddy Tridani tidak berhasil ditemui. Ketika dihubungi melalui selulernya tidak merespons. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin
#tiktok berujung gegeran