Di tempat pengolahan, polisi juga mendapati telur infertil yang rusak dipecah. Diambil isinya. Selanjutnya disaring dan dikemas. Sementara, yang masih bagus dipilih dan dijual kembali kepada pedagang di pasar.
“Mereka tawarkan harga lebih murah. Jauh dari harga pasar. Hanya sekitar Rp 7,5 ribu sampai Rp 13 ribu per kilogram. Padahal, harga telur bisa sampai Rp 16 ribu dari peternak,” ujarnya.
https://radarbromo.jawapos.com/hukrim/10/05/2021/jual-telur-infertil-dua-sekawan-asal-wonorejo-dibekuk/
Praktik ini sudah berjalan 10 bulan. Polisi masih mengembangkannya. Termasuk menelusuri pihak lain yang disinyalir terlibat. Polisi juga mengamankam sejumlah barang bukti. Selain 1.150 telur ayam infertil, 25 bungkus kuning telur ayam ukuran lima kilogram masing-masing, lima drum berisi telur infertil, sebuah frezer, dua handphone, dan mobil pikap bernopol N 9796 TL.
Kepada wartawan, Syamsul Arifin tak mengelak dengan tuduhan petugas. Ia mengaku menjualnya ke Malang untuk roti dan di pasar Grati. “Biasanya satu kwintal hingga dua kwintal kami dapatkan untuk kemudian dijual," ujanya. (one/rud) Editor : Jawanto Arifin